Public Relation Dan Advertising | Apa Perbedaan Keduanya?

perbedaan-public-relation-dan-advertiser
Photo created by pch.vector – www.freepik.com

Public relation dan advertising merupakan dua profesi yang sudah tidak asing lagi di era digital saat ini. Sekilas tugas dan tanggung jawabnya terkesan mirip, yakni membantu mengkomunikasikan brand pada target audiens. Namun sebenarnya keduanya memiliki perbedaan. Simak perbedaan PR dan advertising dibawah ini.

Mengenal Definisi Public Relation dan Advertising

Sebelum menganalisa apa saja perbedaan antara PR dan advertising, ketahui terlebih dahulu definisi dari masing istilahnya.

Melansir dari keydifference.com, berikut ini definisi dari kedua hal tersebut.

Advertising : suatu bentuk komunikasi yang digunakan perusahaan untuk membujuk calon konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan oleh perusahaan.

Public Relation : proses membangun komunikasi dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pemangku kepentingan perusahaan untuk mendapatkan publisitas.

Tujuan Public Relation dan Advertising

Peran advertising dalam perusahaan bertujuan untuk menarik pelanggan, menghasilkan prospek dan penjualan perusahaan dari iklan yang dibuatnya.

Sementara itu, public relation memiliki tujuan agar perusahaan memiliki citra yang positif dan kredibel di mata publik melalui strategi program yang dirancangnya.

Perbedan Public Relation dan Advertising

1. Target Audiens

Advertising membuat iklan sesuai target audiens dan segmen pasar yang jelas. Contohnya mereka akan mengiklankan produk kesehatan wanita, maka mereka akan mengiklankan produk tersebut di berbagai media yang seringkali digunakan wanita seperti majalah olahraga wanita.

Sedangkan PR membuat iklan yang ditujukan kepada sekelompok orang yang hendak berkomunikasi dengan kelompok lain. PR juga harus kreatif dalam membuat program atau menyajikan informasi produk perusahaan agar pihak media mau meliputnya dan memasukannya dalam artikel.

2. Biaya Publisitas Iklan

Dalam publisitas brand, perusahaan mengalokasikan biaya khusus untuk membayar iklan kepada advertising. Mereka cukup mengatur dimana iklan akan dipublikasikan dan kapan waktu iklan ditayangkan atau diterbitkan.

Sedangkan PR sendiri ditugaskan untuk mendapatkan publisitas gratis untuk perusahaan. PR hanya menyiapkan press release agar tulisannya dapat dimuat di media. Publisitas gratis dapat berupa konferensi pers hingga siaran pers. Oleh karenanya, PR harus banyak menjalin relasi dengan media untuk mendapatkan eksposur media gratis untuk perusahaan dan produknya.

3. Kendali Atas Iklan/Berita

Perusahaan melalui advertiser-nya mengeluarkan biaya untuk beriklan, maka advertiser memiliki kendali untuk menampilkan iklan yang seperti apa sesuai dengan tujuan dari iklan tersebut. Mulai dari apa pesan yang disampaikan, bagaimana desainnya dan dimana iklan tersebut akan ditayangkan.

Mengingat PR cenderung mendapatkan publisitas gratis dari media, membuat mereka tidak memiliki kendali atas bagaimana berita di media menyajikan informasi perusahaan. Hal yang berkaitan dengan publisitas akan ditulis oleh jurnalis media masing-masing.

Beberapa informasi yang disajikan media dapat bernada positif maupun negatif. Maka dari itu, PR perlu melakukan media monitoring secara berkala untuk memastikan berita yang disiarkan media tidak menimbulkan reputasi negatif pada perusahaannya.

4. Efek (Respon Konsumen)

Konsumen cenderung mengetahui ketika mereka membaca sebuah iklan yang dibuat oleh advertising. Pasalnya, iklan yang ditayangkan umumnya bersifat hard selling yakni mencoba mengajak konsumen untuk membeli produk mereka. Audiens beranggapan bahwa iklan tersebut sengaja dibuat semenarik mungkin untuk memikat calon pembeli. Oleh karenanya, mereka tidak terlalu terbuai dengan isi dari iklan tersebut.

Seringkali konsumen menemukan iklan yang dibuat oleh PR saat mereka membaca artikel berita atau liputan TV yang berisi produk perusahaan. Namun, mereka melihat bahwa itu bukan merupakan bagian dari iklan berayar karena memiliki dukungan pihak ketiga yakni media. PR melalui media memang merancang sedemikian rupa untuk membuat brand nya dikenal dengan membuat berbagai berita positif tentang perusahaan yang bersifat soft selling.

5. Gaya Penulisan

Gaya penulisan yang digunakan advertising untuk membuat sebuah iklan seringkali menggunakan metode hard selling, yakni menyampaikan pesan secara terus terang. Selain itu, tulisan yang ditampilkan bersifat persuasif, penuh emosional dan dramatis. Contohnya : Belanja Produk Ini Sekarang! Tebus Murah Cuma Rp 1000. Hal ini dilakukan agar calon konsumen termotivasi untuk membeli produk dalam iklan tersebut.

Berbeda dengan advertiser, PR cenderung menggunakan metode soft selling dalam gaya penulisannya. Mereka memasukan iklan promosi dalam format berita yang berisi 5W + 1H. Pesan yang bersifat komersial juga akan sepenuhnya diedit kembali oleh pihak media. Oleh karenanya, tulisan-tulisan PR harus faktual, informatif dan tidak terkesan melebih-lebihkan.

6. Relasi

Dalam melaksanakan tugasnya, advertising cenderung hanya menjalin komunikasi dengan rekan kerja, klien saja dan tenaga publikasi iklan. Sedangkan PR harus menjalin relasi dengan banyak pihak untuk mendapatkan eksposur media seperti editor, produser, reporter, direktur berita.

Kesimpulan

Public relation dan advertising memiliki perbedaan dalam tugas dan teknik pelaksanannya. Public relation lebih berfokus pada bagaimana membuat strategi program agar perusahaan mendapatkan citra positif dari opini publik, sedangkan advertising berfokus pada bagaimana membuat iklan persuasif yang mendatangkan banyak prospek dan penjualan.

Referensi

https://keydifferences.com/difference-between-advertising-and-public-relations.html

https://www.advoindonesia.com/2018/05/31/perbedaan-menonjol-profesi-advertising-vs-public-relations/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *