kazee
Blog
Menangkap Tren Wisatawan Modern: Analisis Destinasi Favorit dengan Social Listening

Menangkap Tren Wisatawan Modern: Analisis Destinasi Favorit dengan Social Listening

Muhammad Iqbal Anshori

19 August 2026 15:02

Image


Satu video berdurasi lima belas detik bisa membuat sebuah desa yang selama puluhan tahun sepi pengunjung, tiba-tiba dipadati ribuan wisatawan dalam hitungan minggu. Itu bukan lagi teori, melainkan kejadian nyata yang berulang di berbagai penjuru Indonesia sepanjang 2026 — dari desa adat di atas awan di Flores hingga pantai karang tersembunyi di Banten. Pertanyaannya, bagaimana dinas pariwisata atau pengelola hotel bisa tahu destinasi mana yang akan "meledak" berikutnya, sebelum ombak wisatawan itu benar-benar datang?

Jawabannya ada di percakapan yang setiap hari terjadi di media sosial, jauh sebelum orang benar-benar memesan tiket.

Wisatawan Sudah Berubah, Strategi Promosi Belum Tentu Ikut Berubah

Perilaku wisatawan Indonesia mengalami pergeseran yang cukup drastis dalam beberapa tahun terakhir. Riset Airbnb bertajuk "Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific" mencatat bahwa sebanyak 92 persen wisatawan Indonesia telah mengunjungi kawasan di luar kota-kota besar dalam setahun terakhir. Salah satu daerah dengan lonjakan paling tajam adalah Lombok, yang mengalami kenaikan menginap sebesar 68 persen dibanding tahun sebelumnya. Menariknya lagi, 90 persen tamu yang menginap di akomodasi luar kota besar justru wisatawan mancanegara, bukan wisatawan domestik.

Angka-angka ini menunjukkan satu hal: pusat gravitasi pariwisata Indonesia sedang bergeser dari destinasi ikonik yang sudah mapan, menuju titik-titik baru yang selama ini luput dari radar promosi resmi.

Pergeseran ini juga terjadi karena destinasi populer seperti Bali mulai menunjukkan tanda kejenuhan. Laporan dari Asia Media Centre, lembaga media asal Selandia Baru, mengungkap bahwa Bali menerima lebih dari tujuh juta kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025, namun tekanan pada sumber daya air, sistem drainase, dan ruang budaya lokal ikut meningkat tajam, dengan sektor pariwisata diperkirakan menyerap sekitar 65 persen konsumsi air di pulau tersebut. Ketika satu destinasi mengalami kepadatan berlebih atau overtourism, wisatawan modern — terutama generasi muda — justru mencari alternatif yang lebih sepi, otentik, dan sarat cerita personal.

Beberapa poin penting tentang pergeseran perilaku ini:

  • Wisatawan kini memilih destinasi berdasarkan pengalaman personal, bukan sekadar popularitas.
  • Preferensi terhadap hidden gem atau destinasi tersembunyi meningkat signifikan, terutama di kalangan Generasi Z dan milenial.
  • Konten pendek di TikTok dan Instagram Reels menjadi pemicu utama lonjakan kunjungan mendadak ke suatu tempat.
  • Wisatawan internasional semakin tertarik pada desa wisata dan kawasan yang menawarkan keterlibatan langsung dengan komunitas lokal.

Publikasi media pariwisata internasional Travel And Tour World turut mencatat bahwa pemerintah Indonesia kini aktif mendorong wisatawan menjelajahi wilayah di luar Bali, termasuk Nusantara, Batam, Bintan, hingga Surakarta, sebagai bagian dari strategi pemerataan manfaat pariwisata.

Dari Kolom Komentar ke Peta Strategi: Mengenal Social Listening

Di titik inilah social listening menjadi kunci. Sederhananya, social listening adalah metode memantau dan menganalisis percakapan publik di berbagai kanal digital — mulai dari Twitter (X), Instagram, TikTok, hingga forum diskusi — untuk memahami apa yang sebenarnya sedang dibicarakan, disukai, atau dikeluhkan orang tentang suatu topik, termasuk destinasi wisata.

Bedanya dengan riset pasar konvensional, social listening menangkap suara wisatawan secara alami dan spontan, bukan jawaban yang dipoles dalam survei formal. Ketika seseorang mengunggah video perjalanan ke sebuah bukit terpencil dengan caption "akhirnya nemu tempat healing yang belum rame", data itu sesungguhnya adalah sinyal pasar yang sangat berharga bagi dinas pariwisata maupun pengelola hotel.

Manfaat konkret dari pendekatan ini antara lain:

  1. Deteksi dini tren destinasi — mengenali titik wisata yang mulai ramai dibicarakan sebelum benar-benar viral secara nasional.
  2. Pemetaan sentimen wisatawan — mengetahui apakah persepsi terhadap suatu daerah cenderung positif, netral, atau justru penuh keluhan soal infrastruktur dan kebersihan.
  3. Identifikasi figur berpengaruh — menemukan kreator konten atau key opinion leader (KOL) lokal yang paling efektif menggerakkan minat wisatawan muda.
  4. Evaluasi kampanye secara real-time — mengukur dampak promosi resmi terhadap percakapan publik, bukan hanya angka kunjungan setelah musim liburan usai.

Inilah area di mana solusi seperti Strategic Intelligence dari Kazee berperan. Sebagai perusahaan big data dan kecerdasan buatan asal Bandung yang telah dipercaya oleh berbagai lembaga pemerintah maupun korporasi, Kazee memantau percakapan lintas kanal digital, media cetak, televisi, hingga radio secara bersamaan, lalu mengolahnya menjadi laporan strategis yang mudah dibaca — bukan sekadar tumpukan data mentah, melainkan rekomendasi yang bisa langsung ditindaklanjuti oleh tim pemasaran destinasi maupun manajemen hotel.

Studi Kasus: Ketika Cerita Digital Berhasil Mengangkat Destinasi

Indonesia sebenarnya sudah memiliki beberapa contoh nyata bagaimana pendekatan berbasis data dan narasi digital mampu mengangkat sebuah destinasi.

Salah satunya adalah kajian akademik terhadap akun Instagram resmi Borobudur dan Danau Toba, dua dari lima destinasi super prioritas pariwisata nasional. Penelitian yang dimuat di Jurnal Komunikasi Universitas Tarumanagara menemukan bahwa strategi storytelling — memadukan unsur latar, karakter, alur, konflik, dan pesan dalam setiap unggahan — terbukti lebih efektif membangun keterikatan emosional wisatawan dibandingkan sekadar promosi visual biasa. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar pemasaran destinasi modern: wisatawan tidak lagi tertarik pada tempat, mereka tertarik pada cerita di balik tempat itu.

Contoh lain datang dari sektor perhotelan skala menengah. Studi kasus terhadap Hotel 88 Embong Malang di Surabaya, yang dipublikasikan dalam jurnal The Commercium, menunjukkan bahwa konten seputar aktivitas di balik layar (behind the scene), edukasi destinasi sekitar hotel, dan testimoni tamu memperoleh rata-rata penayangan 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan konten promosi formal. Setelah strategi berbasis karakteristik audiens Generasi Z diterapkan, engagement rate konten TikTok hotel tersebut mencapai 3,2 persen, melampaui rata-rata industri perhotelan yang berada di angka 3,0 persen.

Dua studi ini menegaskan pola yang sama: destinasi maupun hotel yang berhasil menarik perhatian wisatawan muda bukan yang bermodal besar semata, melainkan yang paling memahami apa yang sesungguhnya ingin didengar dan dilihat audiensnya — sebuah pemahaman yang hanya bisa diperoleh lewat pemantauan percakapan publik secara konsisten.

Menerjemahkan Data Menjadi Kampanye yang Tepat Sasaran

Bagi dinas pariwisata daerah maupun pengelola hotel, tantangan sebenarnya bukan pada mengumpulkan data, melainkan menerjemahkannya menjadi keputusan promosi yang konkret. Beberapa langkah praktis yang bisa diadopsi:

  • Petakan percakapan berdasarkan wilayah. Bandingkan volume dan sentimen pembicaraan antar-kabupaten untuk menemukan titik dengan potensi pertumbuhan tercepat, sebelum kompetitor daerah lain lebih dulu bergerak.
  • Kenali pola musiman audiens. Percakapan soal slow travel dan wisata alam biasanya meningkat menjelang akhir pekan panjang, sehingga kampanye idealnya diluncurkan dua hingga tiga minggu sebelumnya.
  • Libatkan kreator lokal, bukan hanya figur nasional. Data percakapan sering menunjukkan bahwa mikro-kreator dengan audiens loyal di daerah justru memiliki tingkat kepercayaan lebih tinggi dibanding artis nasional yang tidak memiliki ikatan dengan tempat tersebut.
  • Pantau reputasi secara berkelanjutan, bukan hanya saat krisis. Keluhan soal sampah, harga tiket, atau akses jalan yang dibiarkan tanpa respons dapat berubah menjadi sentimen negatif yang menyebar cepat.

Di sinilah kehadiran platform seperti Strategic Intelligence dari Kazee menjadi relevan sebagai mitra kerja tim promosi. Alih-alih menunggu laporan kunjungan wisatawan yang biasanya baru tersedia berbulan-bulan kemudian, tim dinas pariwisata atau manajemen hotel dapat memantau sinyal minat wisatawan hampir secara langsung, memahami narasi apa yang sedang tumbuh, serta menyesuaikan pesan kampanye sebelum momentum hilang. Pendekatan berbasis bukti semacam ini juga membantu mengalokasikan anggaran promosi secara lebih efisien, karena keputusan tidak lagi bertumpu pada asumsi, melainkan pada percakapan nyata dari calon wisatawan itu sendiri.

Kecepatan Membaca Tren, Penentu Siapa yang Lebih Dulu Dikunjungi

Fenomena destinasi tersembunyi yang mendadak viral akan terus berulang selama media sosial menjadi ruang utama orang mencari inspirasi liburan. Perbedaannya, daerah dan hotel yang memiliki sistem pemantauan percakapan publik yang matang akan selalu selangkah lebih dulu menyiapkan sambutan, dibanding yang baru bereaksi setelah lonjakan kunjungan terjadi dan justru kewalahan menghadapinya.

Pariwisata modern bukan lagi soal siapa yang punya pemandangan paling indah, melainkan siapa yang paling cepat memahami apa yang sedang dicari, dirasakan, dan diceritakan oleh wisatawannya sendiri di ruang digital. Dan cerita itu, setiap hari, sudah tertulis di linimasa mereka — tinggal siapa yang cukup jeli untuk mendengarkannya lebih dulu.

Share :

Related Articles