kazee
Blog
Siapa yang Paling Sering Dibicarakan? Audit Share of Voice untuk Dominasi Pasar

Siapa yang Paling Sering Dibicarakan? Audit Share of Voice untuk Dominasi Pasar

Muhammad Iqbal Anshori

19 August 2026 15:53


Coba jawab jujur: kapan terakhir kali tim pemasaran Anda tahu persis, dengan angka, seberapa sering merek Anda disebut orang dibandingkan kompetitor utama hari ini, minggu ini, bahkan jam ini? Kebanyakan tim pemasaran hanya punya jawaban berupa perasaan "kayaknya kita lagi rame" atau "kompetitor lagi gencar promosi nih". Perasaan itu tidak salah, tapi juga tidak bisa dijadikan dasar keputusan anggaran miliaran rupiah. Di sinilah satu angka sederhana bisa mengubah cara sebuah perusahaan melihat posisinya di pasar: Share of Voice.

Ketika "Rasanya Kita Populer" Tidak Cukup

Banyak tim pemasaran korporat menghabiskan energi besar memproduksi konten, mengejar engagement, dan menjalankan kampanye musiman. Tapi ada satu pertanyaan yang sering luput: dari seluruh percakapan tentang kategori produk kita di ruang digital, berapa persen yang benar-benar berbicara tentang merek kita — dan berapa persen yang justru mengarah ke pesaing?

Pertanyaan itulah yang dijawab oleh Share of Voice (SOV), yaitu persentase jumlah sebutan (mention) suatu merek dibandingkan dengan total sebutan seluruh kompetitor di ruang digital. Menurut Nielsen, secara historis Share of Voice merujuk pada porsi belanja media sebuah merek dibandingkan total belanja media di kategori, pasar, kanal, dan periode waktu tertentu. Namun di era digital, definisi ini meluas jauh melampaui iklan berbayar — mencakup sebutan di media sosial, portal berita, forum, hingga ulasan publik.

Rumusnya sendiri sederhana:

SOV = (Jumlah Sebutan Merek Anda ÷ Total Sebutan Seluruh Kompetitor) × 100%

Kelihatan sepele. Tapi di balik angka persentase itu, tersimpan cerita tentang siapa yang benar-benar menguasai perhatian publik — dan siapa yang hanya menguasai ruang rapat internal.

Mengapa Angka Ini Menentukan Nasib Anggaran Pemasaran

Riset Nielsen menunjukkan bahwa Share of Voice bukan sekadar metrik kesenangan (vanity metric). Ia adalah indikator awal apakah sebuah merek punya "modal" untuk bersaing sebelum kampanye itu sendiri dinilai berhasil atau tidak secara penjualan. Dengan kata lain, SOV menjawab pertanyaan "apakah kita punya cukup amunisi untuk bertarung", bukan "apakah pertarungan itu kita menangkan".

Forbes bahkan menegaskan bahwa metrik ini menerangi seberapa besar potensi sebutan merek dibandingkan total volume percakapan yang mungkin terjadi jika seluruh perhatian kategori tertuju padanya. Artinya, SOV memberi tim pemasaran korporat sebuah cermin jujur: apakah pangsa perhatian publik mereka benar-benar mendominasi pasar, atau justru tertinggal jauh di bawah bayang-bayang pesaing utama tanpa mereka sadari.

Konsep ini sendiri lahir dari dunia periklanan konvensional, di mana Share of Voice dihitung dari perbandingan belanja iklan satu merek terhadap total belanja iklan seluruh kategori di pasar yang sama. Kini, prinsip yang sama diterapkan pada percakapan digital — dan justru di sanalah pertarungan sesungguhnya terjadi, karena konsumen modern lebih percaya review jujur di media sosial ketimbang iklan berbayar.

Di Mana Saja Percakapan Itu Terjadi?

Ruang digital tempat sebutan merek muncul jauh lebih luas daripada sekadar linimasa media sosial. Setidaknya ada empat kanal utama yang perlu diperhitungkan saat menghitung Share of Voice secara menyeluruh:

  • Media sosial — jumlah unggahan, komentar, dan cuitan yang menyinggung nama merek Anda dibandingkan kompetitor, baik dari akun resmi, pengguna biasa, maupun key opinion leader.
  • Media daring dan pers — seberapa sering merek Anda muncul dalam pemberitaan, ulasan produk, atau liputan industri di portal berita nasional maupun lokal.
  • Forum dan platform ulasan — percakapan organik konsumen yang jujur, sering kali lebih jujur daripada testimoni berbayar, karena muncul tanpa diminta.
  • Hasil pencarian dan mesin jawab berbasis kecerdasan buatan — kemunculan nama merek saat konsumen mengetik pertanyaan di mesin pencari maupun saat mereka bertanya langsung kepada asisten kecerdasan buatan tentang rekomendasi produk.

Empat kanal ini jarang bergerak seragam. Bisa saja sebuah merek unggul telak di media sosial, tapi nyaris tak terdengar di pemberitaan pers karena minim aktivitas hubungan masyarakat. Di titik inilah audit SOV yang menyeluruh — bukan hanya mengandalkan satu kanal — menjadi krusial. Tim yang hanya memantau media sosial saja berisiko mendapat gambaran yang keliru tentang posisi sesungguhnya di pasar.

Studi Kasus: Pertarungan Sengit di Jalanan Digital Indonesia

Untuk memahami bagaimana perhatian publik bisa berpindah tipis-tipis namun berdampak besar, mari lihat contoh nyata dari Indonesia: persaingan dua raksasa transportasi daring, Gojek dan Grab.

Survei yang dirangkum Databoks Katadata mencatat bahwa dalam sebuah jajak pendapat, sebanyak 21,3% responden mengaku paling sering menggunakan Grab, sementara 19,4% memilih Gojek. Selisihnya memang tidak besar — hanya sekitar dua poin persentase. Tapi dalam pasar sebesar Indonesia, dua poin persentase itu setara dengan jutaan keputusan konsumen setiap harinya.

Coba terjemahkan angka semacam ini ke ranah percakapan digital: berapa kali nama "Gojek" muncul di media sosial, portal berita, dan forum publik dalam sehari, dibandingkan "Grab"? Siapa yang lebih sering dibicarakan saat ada isu kenaikan tarif? Siapa yang mendominasi obrolan ketika salah satu dari mereka meluncurkan fitur baru? Tanpa data Share of Voice yang terukur, tim pemasaran hanya bisa menebak-nebak jawabannya berdasarkan intuisi, padahal kompetitor mereka mungkin sudah lebih dulu mengetahui titik lemah dan celah peluangnya lewat data.

Cerita yang sama bisa terjadi di kategori mana pun — perbankan digital, e-commerce, kosmetik lokal, hingga makanan dan minuman kemasan. Selisih tipis dalam persentase sebutan sering kali menjadi sinyal paling awal sebelum selisih itu membesar menjadi kehilangan pangsa pasar yang nyata.

Yang membuat kasus Gojek dan Grab menarik untuk dipelajari adalah bagaimana kedua merek ini terus-menerus bertukar posisi dari waktu ke waktu, tergantung momentum promosi, isu tarif, hingga ekspansi layanan baru seperti pengiriman barang dan pembayaran digital. Tim pemasaran yang jeli akan melihat pola ini bukan sebagai persaingan statis, melainkan sebagai pertarungan perhatian publik yang dinamis, di mana posisi pemimpin bisa berpindah tangan dalam hitungan minggu jika salah satu pihak lengah memantau pergerakan lawannya.

Tiga Alasan Mengapa Audit Share of Voice Wajib Dilakukan Rutin

1. Mendeteksi Pergeseran Sebelum Terlambat Share of Voice yang menurun secara bertahap sering kali menjadi tanda peringatan dini, jauh sebelum penurunan itu terlihat di laporan penjualan kuartalan. Tim yang memantau angka ini secara berkala punya waktu lebih untuk merespons.

2. Mengungkap Momen yang Dicuri Kompetitor Lonjakan sebutan kompetitor pada momen tertentu — peluncuran produk, krisis reputasi, atau kampanye viral — bisa dianalisis untuk memahami taktik apa yang berhasil menarik perhatian publik, dan taktik apa yang sebaliknya justru merugikan mereka.

3. Menjadi Dasar Alokasi Anggaran yang Rasional Alih-alih membagi anggaran pemasaran berdasarkan kebiasaan tahun lalu, data SOV memungkinkan tim mengalokasikan sumber daya ke kanal dan momentum yang benar-benar terbukti menghasilkan sebutan dan percakapan positif.

Dari Angka Menjadi Keputusan: Peran Strategic Intelligence

Masalahnya, mengumpulkan data sebutan merek dan seluruh kompetitor secara manual dari ribuan sumber digital — media sosial, portal berita, forum, hingga komentar publik — nyaris mustahil dilakukan tim internal tanpa bantuan sistem yang memadai. Di sinilah kapasitas Strategic Intelligence dari Kazee menjadi relevan bagi tim pemasaran korporat.

Kazee dirancang untuk menghitung persentase Share of Voice secara otomatis dan real-time, membandingkan volume sebutan merek Anda dengan seluruh kompetitor di kategori yang sama, lintas kanal digital. Alih-alih menunggu laporan bulanan yang sudah basi saat dibaca, tim pemasaran bisa memantau pergeseran percakapan publik nyaris seketika, lengkap dengan konteks sentimen di baliknya — apakah sebutan itu bernada positif, netral, atau justru krisis yang perlu direspons cepat.

Dengan kemampuan ini, keputusan strategis tidak lagi berangkat dari asumsi "sepertinya kita sedang unggul", melainkan dari data konkret yang menjawab pertanyaan mendasar: apakah investasi pemasaran yang sudah dikeluarkan benar-benar berbuah dominasi perhatian publik, atau justru perhatian itu perlahan berpindah ke kompetitor tanpa disadari.

Menutup Cerita: Perhatian Publik Adalah Medan Perang yang Sesungguhnya

Pada akhirnya, pertarungan merek di era digital bukan lagi soal siapa yang punya anggaran iklan terbesar, melainkan siapa yang paling sering hadir dalam percakapan yang relevan bagi konsumennya. Share of Voice memberi jawaban jujur atas pertanyaan yang selama ini hanya dijawab dengan feeling: siapa sebenarnya yang paling sering dibicarakan, dan apakah itu benar-benar merek Anda.

Bagi tim pemasaran korporat yang ingin memastikan pangsa perhatian publik mereka bukan sekadar ilusi, audit SOV secara rutin — didukung sistem Strategic Intelligence seperti milik Kazee — bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk bertahan dan memimpin di pasar yang percakapannya berpindah dalam hitungan detik.

Share :

Related Articles