Sumber Foto: JPNN

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim menuai pro dan kontra atas pernyataannya yang viral soal kehadiran sebuah ‘Organisasi Bayangan’ yang turut membantu kinerjanya di Kemendikbud Ristek.

Pernyataan Nadiem Makarim tersebut viral berkat video cuplikannya diunggah ulang oleh berbagai akun media sosial, salah satunya yakni akun Twitter @ShamsiAli2.

Adapun dalam pernyataan tersebut, Nadiem Makarim mengatakan bahwa dengan adanya organisasi bayangan yang terdiri atas 400 orang di luar badan kementerian tersebut banyak memberikan bantuan baginya.

Mengutip berbagai sumber dari media, Nadiem Makarim menyebut bahwa 400 orang tersebut terdiri atas berbagai ahli dari manajer produk, perekayasa perangkat lunak, serta ahli analisis data yang melekat untuk Kementerian.

Ditengah pro dan kontra yang telah beredar, Nadiem Makarim telah buka suara soal jumlah orang yang membantunya bekerja di tim yang dituding publik sebagai “shadow organization”.

Menteri Nadiem menjelaskan bahwa tim berjumlah 400 orang itu berasal dari GovTech Edu yang berada di bawah PT Telkom Indonesia dan menjalin kontrak dengan Kemendikbudristek.

Adapun GovTech Edu sendiri disebutkan sebagai mitra kerja yang bisa mendiskusikan banyak hal dengan pejabat-pejabat di Kemendikbudristek. Tim dari GovTech Edu pun bisa berkoordinasi dengan baik saat bekerja bersama direktorat-direktorat jenderal di Kemendikbudristek.

GovTech Edu disebutkan Menteri Nadiem dalam pemberitaan turut berkontribusi dalam pembuatan produk teknologi seperti Merdeka Mengajar, ARKAS and SIPLah, Kampus Merdeka, Rapor Pendidikan dan Belajar.id.

Bagaimana data media monitoring guliran isu pro dan kontra soal kabar “shadow organization” Kemendikbudristek? Mari simak selengkapnya dalam artikel ini!

Analisis Media Monitoring

Dalam artikel ini, akan dibahas isu pro dan kontra apa saja yang bergulir selama pematauan  22 – 25 September 2022.

Baca Juga: Serba Serbi Pengesahan RUU PDP

Sebaran Data

Dalam pantauan 22 – 25 September 2022 data bergerak fluktuatif dengan puncak ekspos terjadi pada tanggal 23 September 2022 berkaitan dengan:

Komparasi Isu Pro dan Kontra Nadiem Makarim Soal Shadow Organization Kemendikbudristek

Pilihan Isu Kontra:

Perhimpunan Pendidikan dan Guru Menyebut Tim Bayangan Rentan Penyalahgunaan

Seperti dikutip oleh media, Kepala Bidang Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri mengatakan kekhawatiran keberadaan tim bayangan Nadiem tersebut rentan terjadinya penyalahgunaan. Sementara itu, narasi kekhawatiran lain disuarakan oleh Kepala Bidang Diklat dan Peningkatan Kompetensi Guru P2G, Fauzi khawatir yang menyebut shadow team ini dapat merusak tatanan birokrasi di internal Kemdikbudristek, sehingga kinerja ASN nya terganggu, bahkan berpotensi mengalami demotivasi kerja.

DPR Sebut Frasa ‘Tim Bayangan’ yang Disebut Nadiem Rendahkan SDM Kemendikbudristek

Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih mengatakan bahwa Frasa shadow team atau tim Bayangan setara direktur jenderal (dirjen) yang disampaikan Nadiem Makarim dalam forum United Nations Transforming Education Summit di Markas Besar PBB sangat berlebihan dan meRendahkan sumber daya manusia yang ada. Untuk itu Komisi X DPR Akan Minta Penjelasan Resmi Terkait Tim Bayangan Nadiem.

Pandangan Pakar Sebut Tim Bayangan Buka Celah Praktik Korupsi

Pengamat Pendidikan UNJ, Rakhmat Hidayat menilai kehadiran tim Bayangan ala Nadiem Makarim sarat terbukanya peluang korupsi. Rakhmat menyebut dalam media urgensi kehadiran tim serupa satuan tugas ini juga masih belum sepenuhnya jelas. Terkhusus ia menyoroti dari segi anggaran yang tak diketahui hulu dan muaranya.

Pengamat: Tim Bayangan Nadiem Sarat Kepentingan

Pengamat kebijakan publik, Trubus Rahadiansyah, menilai tim Bayangan yang diklaim hampir setara dengan direktur jenderal (dirjen) itu sarat dengan konflik kepentingan. Tim Bayangan itu menyebabkan tumpang tindah dan terjadinya konflik kepentingan. Sebab, pembentukan tim Bayangan itu tidak ada urgensinya. Ini menimbulkan kekacauan dalam birokrasi dan penetapan kebijakan.

Pilihan Isu Pro:

Penjelasan Nadiem Makarim: Tim Bayangan berasal dari GovTech Edu yang berada di bawah PT Telkom Indonesia dan menjalin kontrak dengan Kemendikbudristek

Nadiem Makarim dalam ruang media buka suara soal jumlah orang yang membantunya bekerja di tim yang dituding publik sebagai “shadow organisation”. Nadiem mengatakan tim berjumlah 400 orang itu berasal dari GovTech Edu yang berada di bawah PT Telkom Indonesia dan menjalin kontrak dengan Kemendikbudristek.

Tim Bayangan Nadiem Disebut Punya Kemampuan Teknologi Tinggi

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek Hasan Chabibie menampik pembentukan tim Bayangan lantaran ASN di kementerian itu tak punya kemampuan. Hasan menyebut saat ini Pusdatin intens berdiskusi dengan tim Bayangan tersebut. Hal itu agar produk yang dihasilkan memiliki manfaat optimal.

Tim Bayangan yang Dibentuk Nadiem Berisi Ahli IT dan Data

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek) Hasan Chabibie juga menegaskan menyebut tim banyangan memiliki ketentuan dan syarat yakni harus memiliki latar belakang di atas rata-rata. Hasan mengungkapkan sebagian besar dari tim tersebut berasal dari perusahaan-perusahaan Decacorn, Unicorn, atau firma konsultan teknologi, atau perusahaan yang ahli data.

Top Person

Mendikbud-Ristek, Nadiem Makarim

“Tentunya organisasi itu yang ada di bawah PT Telkom itu (GovTech Edu) adalah vendor. Kontraknya adalah vendor. Jadinya saya harus klarifikasi ya jelas mereka itu adalah vendor secara kontraktual.”

Kepala Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kemendikbudristek Hasan Chabibie

“Temen-teman di Pusdatin instens kok berdiskusi ya, mulai kita riset, mematangkan konsep, men- develop layanannya, optimalisasi dari sisi kemanfaatan, dan penggunaannya itu dengan Kemendikbudristek juga, sehingga pekerjaan itu gotong royong sifatnya”

Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru, Iman Zanatul Haeri

“P2G mendesak BPK merespon ini, harus diperiksa saya rasa dari segi anggarannya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *