kazee
Blog
Mengukur Persaingan Marketplace: Analisis Share of Voice Ritel Online Terbesar di Indonesia

Mengukur Persaingan Marketplace: Analisis Share of Voice Ritel Online Terbesar di Indonesia

Muhammad Iqbal Anshori

18 September 2026 13:32

Image


Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa brand tertentu seolah "menghilang" dari percakapan digital, sementara kompetitornya mendominasi setiap sudut media sosial dan berita online? Di tengah ketatnya persaingan e-commerce Indonesia, di mana Shopee dan gabungan TikTok Shop-Tokopedia menguasai 92% pasar pada 2025, kemampuan memantau share of voice atau pangsa suara bukan lagi sekadar opsi—melainkan kebutuhan strategis untuk bertahan dan tumbuh.

Mengapa Share of Voice Menjadi Kompas Strategis Brand di Era Marketplace

Share of voice (SOV) adalah metrik yang mengukur seberapa besar "suara" atau kehadiran brand Anda dibandingkan total percakapan di industri, termasuk penyebutan oleh kompetitor. Dalam konteks ritel online, SOV mencerminkan dominasi perhatian konsumen—bukan hanya pangsa pasar (market share), melainkan seberapa sering brand Anda muncul dalam pencarian, media sosial, iklan, hingga rekomendasi artificial intelligence (AI).

Data terbaru menunjukkan bahwa Shopee memimpin dengan 54% pangsa pasar e-commerce Indonesia pada 2025, sementara TikTok Shop-Tokopedia bersama-sama menguasai 38%. Namun, angka ini tidak statis. TikTok Shop, misalnya, melonjak dari 12,20% menjadi 27,37% dalam akses pengguna hanya dalam setahun (2024–2025). Pergeseran ini membuktikan bahwa perhatian konsumen dapat berpindah dengan cepat, dan brand yang gagal memantau SOV berisiko kehilangan relevansi sebelum menyadari ancaman.ekonomi.

Bagi pelaku e-commerce, manajer pemasaran digital, dan analis industri ritel, SOV berfungsi sebagai sistem peringatan dini. Ia membantu menjawab pertanyaan kritis: Apakah kampanye iklan Anda benar-benar meningkatkan visibilitas? Di channel mana kompetitor lebih kuat? Apakah sentimen publik terhadap brand Anda membaik atau memburuk?

Cara Mengukur Share of Voice: Formula dan Metodologi Praktis

Menghitung SOV tidak sesulit yang dibayangkan. Formula dasarnya sederhana:

SOV (%) = (Metrik Brand Anda ÷ Total Metrik Pasar) × 100shopify+2

Namun, "metrik" yang dimaksud bisa bervariasi tergantung channel yang ingin dianalisis:

  • SOV Media Sosial: Jumlah penyebutan brand Anda dibagi total penyebutan semua brand kompetitor di platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), dan Facebook.

  • SOV Pencarian Organik (SEO): Visibilitas brand Anda dalam hasil pencarian Google untuk kata kunci tertentu, dibandingkan total visibilitas kompetitor.

  • SOV Iklan Berbayar: Kesan (impressions) atau anggaran iklan Anda dibagi total kesan atau anggaran seluruh pemain di kategori yang sama.

  • SOV AI: Frekuensi brand Anda disebut dalam respons AI (seperti ChatGPT, Perplexity, atau Google AI Overviews) dibagi total penyebutan semua brand dalam kategori tersebut.

Langkah praktis untuk mengukur SOV:

  1. Definisikan pasar dan kompetitor. Daftarkan 3–5 kompetitor utama yang relevan dengan kategori produk Anda.

  2. Pilih channel dan metrik. Tentukan apakah Anda ingin mengukur SOV di media sosial, pencarian, iklan, atau kombinasi beberapa channel.

  3. Kumpulkan data penyebutan. Gunakan tools media monitoring untuk mengumpulkan data penyebutan brand Anda dan kompetitor dalam periode tertentu (misalnya bulanan atau kuartalan).

  4. Hitung total penyebutan pasar. Jumlahkan penyebutan brand Anda dengan semua kompetitor.

  5. Terapkan formula SOV. Bagi penyebutan brand Anda dengan total penyebutan pasar, lalu kalikan 100 untuk mendapatkan persentase.

Sebagai ilustrasi, jika brand Anda disebut 500 kali di media sosial dalam sebulan, sementara total penyebutan semua brand (termasuk Anda) adalah 5.000 kali, maka SOV Anda adalah (500 ÷ 5.000) × 100 = 10%.

Studi Kasus: Wardah dan Strategi Dominasi Share of Voice di Marketplace Indonesia

Wardah, brand kosmetik lokal Indonesia yang dikelola oleh PT Paragon Technology and Innovation, merupakan contoh nyata bagaimana pemantauan SOV dapat mendorong pertumbuhan eksponensial. Pada 2025, Wardah berhasil mempertahankan posisi sebagai brand kecantikan teratas di Shopee, meskipun menghadapi tekanan dari brand internasional seperti Maybelline dan lokal lain seperti Somethinc.

Kunci keberhasilan Wardah terletak pada kemampuannya memantau dan mengoptimalkan SOV di berbagai channel. Brand ini secara konsisten muncul dalam percakapan media sosial terkait "kosmetik halal", "skincare lokal", dan "beauty influencer Indonesia". Selain itu, Wardah aktif berkolaborasi dengan key opinion leaders (KOL) dan memanfaatkan fitur live shopping di TikTok Shop untuk meningkatkan visibilitas.

Data dari Magpie IQ menunjukkan bahwa pada awal 2026, Shopee kembali memperlebar keunggulannya di kategori kecantikan, dan Wardah menjadi salah satu brand yang paling sering disebut dalam konteks tersebut. Strategi ini tidak hanya meningkatkan SOV, tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan penjualan—Wardah mencatat kenaikan GMV (gross merchandise value) sebesar 23% year-on-year pada 2025.

Pelajaran dari Wardah: SOV bukan sekadar angka. Ia adalah cerminan dari seberapa baik brand Anda "hadir" dalam percakapan konsumen. Dengan memantau SOV secara rutin, Wardah dapat menyesuaikan strategi konten, mengalokasikan anggaran iklan lebih efektif, dan merespons tren pasar dengan cepat.

Tantangan Memantau Share of Voice di Tengah Fragmentasi Channel Digital

Meski formula SOV terdengar sederhana, implementasinya di lapangan menghadapi sejumlah tantangan. Pertama, fragmentasi channel. Konsumen Indonesia tidak hanya aktif di satu platform. Mereka berpindah antara Shopee, TikTok Shop, Tokopedia, Instagram, hingga forum seperti Kaskus atau Reddit. Memantau semua channel ini secara manual hampir mustahil.

Kedua, volume data yang masif. Setiap hari, jutaan penyebutan brand terjadi di media sosial, berita online, dan platform lainnya. Tanpa tools yang tepat, data ini bisa menjadi noise yang membingungkan, bukan insight yang actionable.

Ketiga, dinamika kompetitif yang cepat. Seperti ditunjukkan oleh lonjakan TikTok Shop dari 12,20% menjadi 27,37% dalam setahun, pergeseran pangsa perhatian konsumen dapat terjadi dalam waktu singkat. Brand yang lambat merespons berisiko kehilangan momentum.ekonomi.

Keempat, munculnya AI sebagai channel baru. Pada 2026, 93% sesi pencarian AI berakhir tanpa klik—artinya, jika brand Anda tidak disebut dalam respons AI, Anda praktis "tidak ada" bagi sebagian konsumen. Ini menambah lapisan kompleksitas dalam pengukuran SOV, karena brand kini harus memantau tidak hanya channel tradisional, tetapi juga bagaimana AI merekomendasikan produk mereka.

Solusi Media Intelligence: Mempermudah Pemantauan Share of Voice secara Real-Time

Di sinilah tools media intelligence seperti Kazee Media Monitoring menjadi game-changer. Kazee adalah platform media intelligence berbasis AI yang dikembangkan oleh perusahaan lokal Indonesia, dan telah dipercaya oleh berbagai institusi, termasuk Bank Indonesia dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Kazee memungkinkan brand untuk:

  • Memantau penyebutan brand secara real-time di berbagai sumber, termasuk media online, media sosial, media cetak, radio, hingga televisi.

  • Menganalisis sentimen untuk memahami apakah percakapan tentang brand Anda bersifat positif, negatif, atau netral.

  • Mengidentifikasi tren isu yang sedang berkembang, sehingga brand dapat merespons dengan cepat sebelum isu menjadi krisis.

  • Mengukur kesuksesan publikasi dengan melacak seberapa luas kampanye atau siaran pers Anda tersebar di media.apps.

  • Memetakan reputasi brand di masyarakat dengan visualisasi data yang mudah dipahami.analysis.

Bagi pelaku e-commerce dan manajer pemasaran digital, Kazee menawarkan keunggulan strategis: alih-alih menghabiskan waktu mengumpulkan data secara manual dari berbagai sumber, Anda dapat mengakses dashboard terpusat yang menyajikan SOV, sentimen, dan tren dalam satu tampilan. Ini memungkinkan tim Anda fokus pada pengambilan keputusan berbasis data, bukan pada proses pengumpulan data itu sendiri.

Sebagai contoh, jika Anda ingin mengetahui bagaimana SOV brand Anda berkembang di TikTok Shop dibandingkan Shopee, Kazee dapat menarik data penyebutan dari kedua platform, menganalisis sentimen, dan menyajikan perbandingan visual dalam hitungan menit. Informasi ini kemudian dapat digunakan untuk menyesuaikan strategi konten, mengalokasikan anggaran iklan, atau bahkan mengidentifikasi peluang kolaborasi dengan KOL yang relevan.

Referensi Internasional: Pelajaran dari Pasar Global

Penting untuk dicatat bahwa tantangan yang dihadapi brand Indonesia dalam mengukur SOV tidak unik. Di pasar global, brand juga berjuang dengan fragmentasi channel dan dinamika kompetitif yang cepat.

Menurut laporan dari Pacvue, platform retail media di Amerika Serikat mengalami pertumbuhan signifikan, dengan brand semakin mengandalkan SOV untuk mengoptimalkan anggaran iklan di Amazon, Walmart, dan Target. Laporan tersebut menekankan bahwa SOV berbasis kesan (impression-based SOV) menjadi metrik kunci untuk mengukur efektivitas iklan di platform ritel online.

Demikian pula, Brandwatch, perusahaan social listening asal Inggris, menyoroti pentingnya mengukur SOV di era AI. Mereka mencatat bahwa brand yang gagal muncul dalam respons AI berisiko kehilangan visibilitas di mata konsumen yang semakin mengandalkan asisten virtual untuk rekomendasi produk.

Di Asia Tenggara, laporan dari Momentum Works menunjukkan bahwa dominasi Shopee dan TikTok Shop-Tokopedia di Indonesia mencerminkan tren regional yang lebih luas, di mana konsolidasi pasar e-commerce terjadi di seluruh kawasan. Brand yang berhasil di tengah konsolidasi ini adalah mereka yang mampu memantau SOV secara rutin dan menyesuaikan strategi dengan cepat.ekonomi.

Langkah Selanjutnya: Membangun Budaya Data-Driven dalam Tim Pemasaran Anda

Mengukur SOV bukan sekadar tugas tim analitik. Ia harus menjadi bagian dari budaya data-driven dalam seluruh organisasi pemasaran. Beberapa langkah yang dapat diambil:

  • Latih tim pemasaran untuk memahami formula SOV dan cara menginterpretasikannya.

  • Integrasikan SOV dalam laporan kinerja bulanan, bersama metrik lain seperti conversion rate dan customer acquisition cost.

  • Gunakan tools media intelligence* seperti Kazee untuk mengotomatisasi pengumpulan data dan analisis SOV.analysis.

  • Lakukan benchmarking rutin terhadap kompetitor untuk memahami posisi relatif brand Anda di pasar.

  • Eksperimen dengan channel baru, termasuk AI, untuk memastikan brand Anda tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen.

Dengan pendekatan ini, SOV bukan lagi sekadar angka di laporan, melainkan kompas strategis yang membimbing setiap keputusan pemasaran—dari alokasi anggaran hingga pengembangan produk.

Penutup: Share of Voice sebagai Senjata Rahasia di Tengah Persaingan Marketplace

Di tengah dominasi Shopee dan TikTok Shop-Tokopedia yang menguasai 92% pasar e-commerce Indonesia, brand tidak bisa lagi mengandalkan intuisi atau asumsi. Share of voice memberikan lensa yang jelas untuk memahami di mana brand Anda berdiri, seberapa kuat suara Anda terdengar, dan di mana peluang untuk tumbuh.ekonomi.

Dengan memanfaatkan tools media intelligence seperti Kazee, pelaku e-commerce dan manajer pemasaran dapat mengubah data menjadi insight, dan insight menjadi aksi yang mendorong pertumbuhan. Dalam dunia di mana perhatian konsumen adalah mata uang paling berharga, SOV adalah alat untuk memastikan brand Anda tidak hanya hadir, tetapi juga didengar.

Share :

Related Articles