Menangkap Peluang Kuliner Viral: Membaca Tren Makanan Masa Kini dengan Big Data
Muhammad Iqbal Anshori
16 September 2026 05:39
Bayangkan skenario ini—eh, coba gambarkan begini: dalam waktu tujuh hari saja, satu jenis minuman yang tadinya tidak ada dalam kamus kuliner Indonesia tiba-tiba muncul di ratusan gerai kaki lima, dijual ulang oleh puluhan reseller, dan membuat harga bahan bakunya melonjak dua kali lipat di pasar. Itu bukan cerita fiksi. Itu yang benar-benar terjadi ketika feta pasta menjadi viral di TikTok pada 2021—sebuah resep pasta panggang keju feta yang begitu digemari sampai memicu kelangkaan keju feta secara global dan tercatat sebagai resep paling banyak dicari di Google sepanjang tahun itu. Fenomena serupa terjadi berulang kali di Indonesia: dari es kepal Milo, croffle, hingga jajanan tradisional yang tiba-tiba dibanjiri konten ulang di For You Page. Pertanyaannya, bagaimana pelaku usaha kuliner bisa tahu duluan—bukan setelah tren itu jenuh dan pasar sudah penuh sesak oleh pesaing?
Di sinilah data media sosial berubah dari sekadar hiburan menjadi alat mata-mata pasar yang sangat serius.
Kuliner Kini Ditemukan Lewat Layar, Bukan Lagi Lewat Rak Menu
Perilaku konsumen kuliner Indonesia sudah bergeser total. Alih-alih mengetik "kafe enak Jakarta" di mesin pencari, generasi muda kini langsung membuka TikTok atau Instagram dan mengetik "matcha Jakarta" atau "donat viral TikTok" di kolom pencarian, menjadikan platform itu sebagai mesin pencari utama mereka. Laporan Digital 2026: Indonesia bahkan mencatat identitas pengguna media sosial di Indonesia sudah mencapai sekitar 180 juta, dengan rata-rata waktu berselancar hampir 22 jam per minggu di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.
Artinya, dapur pengembangan menu sebuah restoran sekarang bersaing langsung dengan algoritma. Sebuah hidangan bisa meledak dalam hitungan hari, lalu meredup secepat itu juga jika pengusaha telat masuk ke gelombangnya.
Fenomena ini juga tidak lepas dari perubahan model bisnis di industri food & beverage itu sendiri. TikTok bahkan pernah menjadikan tren viral kulinernya sebagai model bisnis nyata lewat "TikTok Kitchen"—jaringan dapur pengiriman yang menunya disusun murni dari hidangan-hidangan yang sedang viral di platform tersebut, dan diperbarui setiap tiga bulan mengikuti tren terbaru. Ini bukti nyata bahwa data perilaku warganet di media sosial kini punya nilai ekonomi yang sangat konkret.
Mengapa "Mengikuti Rasa" Saja Tidak Lagi Cukup
Selama ini banyak pelaku F&B mengandalkan intuisi: mencicipi tren dari mulut ke mulut, mengamati kompetitor, atau menunggu laporan riset pasar yang biasanya baru terbit berbulan-bulan setelah tren itu sendiri sudah lewat. Padahal siklus hidup sebuah tren kuliner viral, terutama di platform video pendek, bisa jauh lebih singkat dari itu.
Data dari Axios memperlihatkan betapa cepatnya tren makanan bergulir di TikTok: tren cottage cheese yang dimulai pada 2023 justru meledak lebih besar pada pertengahan 2024, dengan lonjakan pencarian tertinggi untuk kata kunci seperti "cottage cheese wrap" dan "cottage cheese flatbread" pada Google Trends. Bahkan peritel besar seperti Aldi mengaku secara resmi memiliki tim khusus pemantau tren yang bertugas mengamati media sosial demi "menangkap tren yang baru muncul dan menyetok barang yang sedang dicari pelanggan". Ini menunjukkan satu hal penting: perusahaan besar sekalipun tidak lagi mengandalkan firasat, melainkan data.
Beberapa pola yang biasanya menjadi penanda awal sebuah tren kuliner akan meledak antara lain:
- Lonjakan tajam frekuensi kata kunci dalam waktu singkat (biasanya di bawah dua minggu), jauh di atas rata-rata harian biasa.
- Penyebaran lintas kreator yang tidak saling berafiliasi—tanda bahwa tren itu organik, bukan hasil kampanye berbayar satu pihak.
- Munculnya variasi dan modifikasi dari resep atau menu asli, misalnya versi pedas, versi mini, atau versi homemade—ciri khas tren yang sedang memasuki fase pertumbuhan, bukan penurunan.
- Perpindahan dari konten hiburan ke konten transaksional, seperti munculnya link pembelian, ulasan gerai, atau video "cara bikin sendiri" yang menandakan minat pasar sudah matang untuk dimonetisasi.
Studi Kasus dari Dalam Negeri: Bagaimana Kopi Kenangan Membaca Denyut Media Sosial
Contoh nyata dari Indonesia bisa dilihat dari perjalanan Kopi Kenangan. Sejumlah kajian akademik mencatat bahwa keberhasilan Kopi Kenangan membangun kedekatan dengan pelanggan tidak lepas dari cara mereka memanfaatkan Instagram dan TikTok secara konsisten—mulai dari konten visual yang mengikuti tren kekinian, kolaborasi dengan influencer, hingga promosi yang terintegrasi langsung dengan aplikasi pemesanan. Strategi ini terbukti mampu mendongkrak tingkat keterlibatan (engagement) dan memperluas jangkauan pasar mereka di tengah persaingan industri kopi siap saji yang semakin sengit.
Namun, kajian lain juga mencatat sisi sebaliknya: ketika momentum media sosial Kopi Kenangan sempat melambat, posisinya di Top Brand Index perlahan tergeser oleh kompetitor sejenis seperti Janji Jiwa. Ini justru memperlihatkan poin yang lebih penting—memantau tren viral bukan pekerjaan sekali jalan. Ia harus dilakukan terus-menerus, karena ritme percakapan warganet di media sosial bisa berubah kapan saja, dan brand yang lengah sedikit saja bisa kehilangan momentum yang susah payah dibangun.
Di sinilah letak tantangan sesungguhnya bagi pelaku usaha F&B, terutama pelaku usaha kecil dan menengah: mereka tidak punya sumber daya untuk memantau ribuan konten video pendek setiap hari secara manual, apalagi memilah mana yang benar-benar sinyal tren dan mana yang sekadar riuh sesaat.
Dari Tumpukan Video ke Peluang Bisnis yang Terukur
Bagi pengusaha F&B, memantau tren viral bukan sekadar soal "ikut-ikutan" agar terlihat kekinian. Ini soal keputusan bisnis yang berdampak langsung pada omzet: bahan baku apa yang perlu distok lebih dulu, menu apa yang layak diluncurkan sebelum kompetitor bergerak, bahkan strategi harga seperti apa yang sesuai dengan momentum pasar.
Tantangannya, volume percakapan di media sosial Indonesia sangat besar dan berjalan dalam bahasa sehari-hari yang penuh singkatan, sindiran, dan istilah lokal yang terus berubah. Di titik inilah kemampuan mengolah data dalam skala besar menjadi krusial. Inilah yang coba dijawab oleh Kazee lewat produk Strategic Intelligence—sebuah solusi berbasis kecerdasan buatan yang membantu bisnis memetakan pola kata kunci makanan, minuman, hingga nama restoran yang sedang mengalami lonjakan penyebutan di platform video pendek secara real-time. Alih-alih menunggu tren sudah jenuh baru bereaksi, pelaku F&B bisa memantau sinyal awal kenaikan sebuah topik kuliner, membandingkannya dengan tren musiman sebelumnya, sekaligus memahami sentimen warganet terhadap sebuah rasa atau konsep menu—sebelum akhirnya memutuskan untuk memasukkannya ke dalam menu baru mereka.
Pendekatan berbasis data semacam ini mengubah cara kerja tim pengembangan produk F&B, dari yang semula reaktif—menunggu tren viral lalu buru-buru menyesuaikan diri—menjadi lebih proaktif dan terukur dengan dasar data yang bisa dipertanggungjawabkan.
Bagaimana Pengusaha Bisa Mulai Memanfaatkannya
Beberapa langkah praktis yang bisa diambil pelaku usaha F&B untuk mulai membaca tren berbasis data:
- Tentukan kategori kata kunci yang relevan, misalnya jenis bahan baku, gaya masakan, atau segmen menu tertentu yang ingin dipantau secara berkala.
- Pantau frekuensi penyebutan dari waktu ke waktu, bukan hanya sekali lihat, agar bisa membedakan lonjakan sesaat dari tren yang benar-benar bertumbuh.
- Bandingkan dengan wilayah dan demografi, karena tren kuliner di Jakarta belum tentu sama momentumnya dengan di Surabaya atau Medan.
- Uji skala kecil sebelum produksi massal, misalnya lewat menu edisi terbatas, agar risiko bahan baku tidak terpakai bisa ditekan.
- Evaluasi respons pelanggan setelah peluncuran, untuk memastikan menu baru benar-benar sejalan dengan minat pasar, bukan sekadar ikut arus.
Bloomberg baru-baru ini mencatat bahwa antrean panjang demi camilan viral dan restoran populer kini sudah menjadi ciri tak terhindarkan dari kehidupan kota-kota besar di dunia, dari New York hingga Shanghai, dan TikTok disebut sebagai motor penggerak utamanya. Artinya, fenomena ini bukan sekadar tren sesaat yang akan hilang begitu saja—ia sudah menjadi bagian permanen dari cara industri kuliner bekerja di era digital.
Penutup: Kecepatan Membaca Sinyal, Bukan Sekadar Mengikuti Tren
Industri kuliner Indonesia bergerak dengan ritme yang jauh lebih cepat dibandingkan satu dekade lalu. Sebuah rasa baru bisa lahir dari kamar tidur seorang kreator video pendek, lalu dalam hitungan minggu sudah menjadi antrean panjang di berbagai kota. Bagi pelaku usaha F&B, kemampuan membaca sinyal ini lebih awal—dengan data yang jelas, bukan sekadar tebakan—menjadi pembeda antara yang berhasil menangkap momentum dan yang hanya menonton dari pinggir layar.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah bisnis Anda perlu memantau tren media sosial, melainkan seberapa cepat Anda bisa mulai melakukannya sebelum kompetitor mendahului.