kazee
Blog
Media Monitoring Bukan Soal "Siapa yang Paling Banyak Disebut", Tapi "Siapa yang Paling Berpengaruh"

Media Monitoring Bukan Soal "Siapa yang Paling Banyak Disebut", Tapi "Siapa yang Paling Berpengaruh"

Muhammad Iqbal Anshori

08 July 2026 12:29

Image


Sebuah brand kecantikan lokal pernah bangga karena namanya disebut lebih dari 5.000 kali dalam sebulan di media online dan media sosial. Tim marketing-nya merasa sudah menang. Tapi ketika dicek lebih dalam, mayoritas sebutan itu datang dari akun-akun kecil dengan pengikut di bawah 500 orang, dan hampir tidak ada satupun media arus utama atau figur berpengaruh yang membahasnya. Di sisi lain, brand kompetitor yang jumlah sebutannya jauh lebih sedikit, hanya sekitar 800 kali, justru diliput oleh dua media nasional dan dibicarakan oleh beberapa figur publik yang relevan dengan industrinya.

Enam bulan kemudian, brand kedua tumbuh lebih pesat dari sisi kepercayaan pasar. Cerita ini menggambarkan satu kesalahan yang masih sering terjadi: menyamakan "banyak disebut" dengan "berpengaruh".

Kesalahan Umum: Mengejar Angka, Melupakan Dampak

Banyak tim komunikasi dan marketing menjadikan jumlah mention sebagai tolok ukur utama keberhasilan kampanye. Padahal, menurut riset Nielsen, Share of Voice (SOV) pada dasarnya mengukur porsi eksposur sebuah brand dibanding total percakapan di kategori yang sama, bukan seberapa besar dampaknya terhadap persepsi publik. Artinya, SOV yang tinggi tidak otomatis berarti reputasi yang kuat atau kepercayaan konsumen yang meningkat.

Beberapa masalah yang muncul ketika brand hanya fokus pada volume sebutan:

  • Kualitas sumber diabaikan. Sebutan dari akun anonim atau media kecil dihitung setara dengan opini dari jurnalis atau pakar industri.
  • Sentimen tidak dianalisis. Sebutan negatif bisa saja tetap menaikkan angka, padahal merusak reputasi.
  • Konteks percakapan hilang. Sebuah nama brand yang disebut sekadar sebagai perbandingan berbeda maknanya dengan yang direkomendasikan secara aktif.

Kenapa "Siapa yang Berbicara" Lebih Penting dari "Berapa Kali Disebut"

Konsep ini dikenal sebagai Share of Influence, yakni sejauh mana brand dibicarakan oleh figur atau media yang punya bobot dan kredibilitas di industrinya, bukan sekadar oleh siapa saja. Satu artikel dari jurnalis di media nasional dengan otoritas domain tinggi dapat memberi dampak reputasi yang jauh lebih besar dibanding puluhan unggahan dari akun dengan pengaruh minim.

Konsep ini juga sejalan dengan pergeseran cara profesional PR mengukur keberhasilan. Sebagaimana dibahas dalam kolom Forbes, praktisi PR kini semakin mengutamakan otoritas dan relevansi sumber pemberitaan dibanding sekadar jumlah publikasi, karena satu artikel di media dengan kredibilitas tinggi dinilai lebih berharga daripada sepuluh sebutan di blog yang kurang dikenal. Riset yang sama juga menyoroti bahwa faktor seperti otoritas domain media dan pengaruh jurnalis kini menjadi bagian dari cara mengukur dampak sebuah pemberitaan, bukan lagi sekadar menghitung jumlahnya.

Ketika Eiger Belajar dari Krisis Kecil yang Jadi Besar

Kasus yang terjadi pada Eiger, brand outdoor asal Indonesia, jadi contoh nyata bagaimana satu suara yang berpengaruh bisa mengalahkan ribuan sebutan biasa. Ceritanya bermula ketika Eiger mengirim surat keberatan kepada seorang YouTuber bernama Dian Widiyanarko terkait ulasannya tentang produk kacamata Eiger Kerato. Dian merasa keberatan lalu membagikan surat tersebut di media sosial.

Dari sisi jumlah sebutan, kejadian ini mungkin hanya berasal dari satu unggahan. Tapi karena diunggah oleh sosok yang punya kredibilitas dan diikuti banyak orang di komunitasnya, dampaknya menyebar cepat, memicu kritik dari netizen, selebriti, dan sesama kreator konten. Eiger akhirnya meminta maaf secara terbuka dan mengapresiasi karya Dian. Satu suara berpengaruh terbukti mampu menggerakkan opini publik jauh lebih besar dibanding ribuan komentar dari akun-akun kecil yang tidak terhubung ke komunitas mana pun.

Kasus ini menunjukkan bahwa memantau "siapa yang bicara" sama pentingnya, bahkan kadang lebih penting, dibanding memantau "berapa banyak yang bicara".

Coca-Cola dan Sepuluh Detik Cristiano Ronaldo

Pola yang sama juga terjadi di panggung global. Pada laga pembuka Euro 2020, Cristiano Ronaldo menyingkirkan dua botol Coca-Cola dari meja konferensi pers, mengangkat botol air putih, lalu berkata "Água". Gerakan itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi karena dilakukan oleh salah satu atlet paling berpengaruh di dunia dengan hampir 300 juta pengikut, dampaknya jauh melampaui sekadar satu unggahan biasa.

Dalam hitungan jam, ESPN, CBS News, hingga The Guardian melaporkan bahwa nilai pasar Coca-Cola turun sekitar 4 miliar dolar AS tak lama setelah momen tersebut. Video kejadian ini menembus jutaan tayangan dalam waktu singkat dan memicu pemain lain, seperti Paul Pogba, melakukan hal serupa terhadap sponsor lain di hari berikutnya.

Yang menarik, sejumlah analisis keuangan lanjutan menunjukkan bahwa penurunan saham Coca-Cola sebenarnya sudah mulai terjadi sebelum momen Ronaldo, dipicu faktor teknis seperti tanggal ex-dividend, bukan semata karena aksi tersebut. Namun terlepas dari akurasi hubungan sebab-akibatnya, opini publik dan media global sudah telanjur meyakini bahwa satu gestur dari figur berpengaruh mampu menggoyang raksasa multinasional. Ini justru memperkuat inti persoalan dalam artikel ini: seberapa besar sebuah isu dianggap penting oleh publik, sering kali ditentukan oleh siapa yang menyuarakannya, bukan oleh data yang sesungguhnya paling akurat.

Kasus Eiger dan Coca-Cola berasal dari industri, negara, dan skala yang sangat berbeda, tapi keduanya membuktikan pola yang sama: satu suara dari sumber berpengaruh dapat menggeser opini publik jauh lebih cepat dan luas dibanding ribuan sebutan biasa yang tidak terhubung pada kredibilitas atau posisi tertentu.

Bagaimana Brand Bisa Mengukur Pengaruh, Bukan Sekadar Angka

Untuk bergeser dari sekadar menghitung mention menuju memahami pengaruh, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan tim komunikasi:

  • Identifikasi sumber berbobot di industri, bukan hanya menghitung total sebutan.
  • Analisis sentimen per sumber, bukan sentimen rata-rata dari seluruh percakapan.
  • Pantau tren respons, apakah sebuah isu berkembang karena figur berpengaruh ikut membicarakannya.
  • Bedakan mention pasif dan aktif, misalnya sekadar disebut versus direkomendasikan.

Di sinilah teknologi media intelligence berperan penting. Kazee, misalnya, dirancang untuk membantu brand melihat lebih dari sekadar jumlah sebutan, dengan memetakan sumber pemberitaan, mengenali pola sentimen, dan mengidentifikasi siapa saja pihak yang benar-benar berpengaruh dalam sebuah percakapan. Dengan pendekatan seperti ini, tim komunikasi bisa fokus merespons isu yang benar-benar berdampak pada reputasi, bukan sekadar isu yang ramai secara angka.

Ukur Pengaruh, Bukan Sekadar Angka

Cerita brand kecantikan di awal artikel ini adalah pengingat bahwa strategi komunikasi yang baik tidak berhenti pada pertanyaan "berapa kali kita disebut", melainkan "siapa yang menyebut kita, dan seberapa besar suara itu bisa menggerakkan opini publik". Brand yang memahami perbedaan ini akan lebih siap membangun reputasi yang kokoh, bukan sekadar riuh di permukaan.

Share :

Related Articles