kazee
Blog
Matinya Era Konten "Satu untuk Semua": Bagaimana PR Berbasis AI Mengubah Satu Pesan Jadi Banyak Cerita

Matinya Era Konten "Satu untuk Semua": Bagaimana PR Berbasis AI Mengubah Satu Pesan Jadi Banyak Cerita

Muhammad Iqbal Anshori

30 June 2026 16:38

Image


Bayangkan sebuah perusahaan teknologi mengumumkan pendanaan baru. Tim komunikasi menulis satu siaran pers, mengirimkannya ke media, mengunggahnya ke situs perusahaan, lalu menempelkannya juga di papan pengumuman internal untuk karyawan. Investor membacanya sambil mencari angka valuasi. Karyawan membacanya sambil bertanya-tanya apakah ini berarti ada perombakan struktur. Pelanggan, kalau sempat membacanya sama sekali, hanya ingin tahu apakah harga produk akan naik. Satu naskah, tiga kebutuhan yang sama sekali berbeda — dan ujungnya tidak ada satu pun yang benar-benar merasa "disapa".

Pola seperti ini sudah lama jadi kebiasaan dalam dunia PR: satu pesan untuk semua orang. Masalahnya, kebiasaan itu kini mulai ditinggalkan, dan AI generatif adalah pendorong utamanya.

Ketika Satu Pesan Tak Lagi Cukup

Riset Muck Rack yang dirilis pada Agustus 2025 menemukan bahwa di antara praktisi PR yang sudah mempersonalisasi pitch media mereka, mayoritas hanya mengubah beberapa kalimat saja dari naskah aslinya. Artinya, personalisasi "asli" — yang benar-benar menyesuaikan sudut pandang, bukan sekadar mengganti nama penerima — masih jarang terjadi karena keterbatasan waktu dan tenaga tim komunikasi.

Di sinilah AI generatif mengubah permainan. Sebuah analisis dari PR Daily terhadap studi Microsoft tentang dampak AI di berbagai profesi mencatat bahwa AI membantu menciptakan pesan yang ditargetkan untuk berbagai segmen audiens, termasuk mempersonalisasi pitch untuk masing-masing jurnalis berdasarkan riwayat liputan dan minat mereka. Studi yang sama juga menyoroti bahwa AI unggul dalam peran penasihat dan pembinaan — keterampilan inti dalam hubungan media, komunikasi pemangku kepentingan, dan konseling klien, yang berarti AI bukan menggantikan strategi PR, melainkan mempercepat eksekusinya.

PRWeek bahkan menyebut tren ini sebagai bagian dari evolusi besar industri komunikasi pada 2026, di mana eksekutif komunikasi dari berbagai perusahaan global mulai memanfaatkan AI bukan untuk menggantikan keahlian PR, melainkan untuk memperkuatnya — membebaskan tim dari tugas repetitif agar bisa fokus pada strategi, kreativitas, dan membangun relasi.

Satu Inti Pesan, Empat Sudut Pandang

Konsepnya sebenarnya sederhana. Inti pesan tetap sama — katakanlah, perusahaan baru saja meluncurkan kebijakan keberlanjutan. Tapi cara pesan itu disampaikan perlu berbeda untuk tiap kelompok:

  • Investor ingin tahu dampaknya terhadap risiko finansial, kepatuhan regulasi, dan proyeksi jangka panjang.
  • Karyawan ingin tahu apa artinya bagi pekerjaan sehari-hari mereka, dan apakah ada perubahan kebijakan internal.
  • Pelanggan ingin tahu manfaat langsung yang mereka rasakan — produk lebih ramah lingkungan, misalnya.
  • Media ingin angle yang punya nilai berita: data, kutipan, dan konteks industri yang lebih luas.

Dengan AI generatif, tim komunikasi bisa memasukkan satu narasi inti, lalu meminta model menghasilkan empat versi turunan sekaligus — masing-masing dengan nada, istilah, dan penekanan yang disesuaikan. Proses yang dulu memakan waktu berhari-hari kini bisa selesai dalam hitungan jam, tanpa mengubah fakta atau pesan utama yang ingin disampaikan.

Studi Kasus dari Indonesia: Pendekatan GoTo dalam Sahabat-AI

Contoh nyata dari Indonesia bisa dilihat dari peluncuran Sahabat-AI oleh GoTo (Gojek Tokopedia) pada November 2024. GoTo memosisikan Sahabat-AI sebagai model bahasa besar (LLM) open-source pertama di Indonesia yang dirancang untuk memahami budaya, bahasa, dan pola komunikasi khas masyarakat Indonesia, termasuk beberapa bahasa daerah seperti Jawa dan Sunda. Narasi peluncuran ini menyasar beberapa audiens sekaligus dengan penekanan berbeda: kepada investor dan analis, pesan diarahkan pada potensi efisiensi dan personalisasi layanan yang bisa mendorong pertumbuhan bisnis; kepada publik dan media, pesan diarahkan pada kedaulatan teknologi digital nasional; sementara kepada mitra teknologi, GoTo menonjolkan kolaborasi strategis dengan Indosat Ooredoo Hutchison dan Nvidia untuk memperkuat infrastruktur serta kapasitas pemrosesan data. Satu inisiatif, banyak sudut cerita — dan masing-masing terasa relevan bagi audiensnya.

Peran Media Intelligence dalam Mengukur Resonansi Pesan

Memproduksi banyak versi pesan hanyalah separuh pekerjaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap versi benar-benar diterima dengan baik oleh segmen yang dituju — apakah media memberitakan dengan angle yang diharapkan, apakah sentimen publik bergerak positif, atau apakah ada miskomunikasi yang perlu segera diluruskan.

Di titik inilah platform Media Intelligence dari Kazee bisa menjadi pelengkap penting. Dengan kemampuan memantau pemberitaan dan percakapan publik lintas kanal secara real-time, tim komunikasi dapat melihat bagaimana setiap versi pesan — untuk investor, karyawan, pelanggan, maupun media — direspons di lapangan, lalu menyesuaikan strategi berikutnya berdasarkan data, bukan sekadar asumsi.

Bukan Soal Mengganti Manusia

PRWeek menegaskan bahwa di tengah maraknya disinformasi, fungsi PR justru menjadi salah satu fungsi paling strategis di dalam bisnis, karena reputasi kini juga ditentukan oleh bagaimana sistem AI menjawab pertanyaan publik tentang sebuah merek. Personalisasi berbasis AI bukan berarti mesin menggantikan juru bicara perusahaan. AI menyiapkan kerangka dan variasi sudut pandang; manusia tetap yang menentukan nada, etika, dan keputusan akhir sebelum pesan itu sampai ke publik.

Era "satu pesan untuk semua" memang sudah lewat. Yang menggantikannya bukan kekacauan, melainkan ketepatan — satu kebenaran, disampaikan dengan cara yang masuk akal bagi setiap orang yang mendengarnya.

Share :

Related Articles