kazee
Blog
Ketika Press Release Berubah Jadi Konten Video: Era Baru PR yang Jujur dan Emosional

Ketika Press Release Berubah Jadi Konten Video: Era Baru PR yang Jujur dan Emosional

Muhammad Iqbal Anshori

11 June 2026 10:21

Image


Bayangkan kamu adalah seorang Humas digital sebuah perusahaan consumer goods. Di meja kerjamu, sudah tersusun rapi draf press release sepanjang tiga halaman — penuh dengan kutipan resmi Direktur Utama, angka pertumbuhan, dan bahasa korporat yang terasa... dingin. Kamu mengirimkannya ke 50 media. Tiga yang merespons. Satu yang muat.

Lalu, keesokan harinya, sebuah brand kompetitor mengunggah video 47 detik di TikTok. Tidak ada studio mewah. Tidak ada teleprompter. Hanya seorang karyawan muda yang berbicara langsung ke kamera sambil memegang produk, bercerita tentang tantangan tim mereka dalam menghadirkan inovasi tersebut. Dalam 24 jam, video itu ditonton 2,3 juta kali.

Apa yang baru saja terjadi? Itulah authenticity-driven video — gelombang baru komunikasi PR yang sedang mengubah cara perusahaan berbicara kepada publik.


Mengapa Format Lama Tidak Lagi Cukup?

Press release konvensional lahir di era ketika media massa menjadi satu-satunya penjaga gerbang informasi. Formatnya baku, nadanya formal, dan distribusinya linear. Namun dunia sudah berubah drastis.

Menurut laporan Reuters Institute Digital News Report 2024, sebesar 54% konsumen global lebih mempercayai konten yang terasa personal dan tidak dipoles berlebihan dibandingkan siaran pers perusahaan yang terkesan steril. Sementara itu, data dari Sprout Social Index 2024 menunjukkan bahwa video berdurasi pendek masih menjadi format konten dengan tingkat engagement tertinggi di seluruh platform sosial, mengalahkan teks, infografis, dan gambar statis.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah sinyal kuat bahwa audiens modern — termasuk jurnalis, investor, dan konsumen — kini menginginkan sesuatu yang berbeda: kejujuran yang bisa dilihat dan dirasakan.


Apa Itu Authenticity-Driven Video dalam Konteks PR?

Authenticity-driven video adalah pendekatan komunikasi yang menempatkan kejujuran emosional dan kemanusiaan sebagai inti pesan, bukan kecanggihan produksi. Dalam konteks PR, ini berarti menyampaikan pesan korporat — peluncuran produk, klarifikasi isu, laporan keberlanjutan, bahkan krisis — melalui format video pendek yang terasa nyata dan apa adanya.

Format ini berbeda dari iklan. Berbeda pula dari konten branded yang diproduksi mahal. Kekuatannya justru ada pada ketidaksempurnaannya yang terencana — pencahayaan natural, latar belakang kantor asli, dan cara bicara yang manusiawi.

Tiga elemen kunci yang membedakan video PR autentik:

  • Narasi orang pertama: Bukan juru bicara berbaju formal, melainkan karyawan nyata yang berbicara dengan bahasa sehari-hari.
  • Konteks yang jujur: Mengakui tantangan, bukan hanya merayakan pencapaian.
  • Durasi yang tepat: TikTok dan Instagram Reels membuktikan bahwa 15–60 detik sudah cukup untuk menyampaikan pesan bermakna.

Studi Kasus: Patagonia dan Transparansi Rantai Pasok

Salah satu contoh paling kuat datang dari brand outdoor asal Amerika Serikat, Patagonia. Alih-alih merilis laporan keberlanjutan dalam format PDF 80 halaman, tim komunikasi mereka memproduksi serangkaian video pendek di Instagram yang menampilkan para pekerja pabrik di Vietnam dan Guatemala — berbicara langsung tentang kondisi kerja mereka, tantangan sehari-hari, dan bagaimana Patagonia bermitra dengan mereka.

Hasilnya? Tingkat engagement video tersebut 3,5 kali lebih tinggi dibandingkan konten foto statis mereka. Lebih penting lagi, video-video ini dikutip oleh lebih dari 200 media internasional sebagai referensi transparansi rantai pasok — sesuatu yang tidak pernah dicapai oleh press release mereka sebelumnya.

Patagonia membuktikan bahwa ketika PR berbicara dengan jujur melalui visual, media pun merespons bukan karena diminta, melainkan karena merasa ada cerita nyata yang layak diceritakan ulang.


Studi Kasus Lokal: Tokopedia dan Video "Behind the Scenes" Lebaran

Di Indonesia, Tokopedia (kini bagian dari TikTok Shop Indonesia) pernah melakukan pendekatan serupa menjelang musim Lebaran. Alih-alih merilis siaran pers tentang pertumbuhan transaksi, tim komunikasi mereka membuat serangkaian Reels Instagram yang menampilkan penjual UMKM dari berbagai daerah — dari pengrajin batik Pekalongan hingga produsen kerupuk di Sidoarjo — bercerita tentang bagaimana platform digital mengubah hidup mereka.

Konten ini menyebar organik hingga ditonton lebih dari 8 juta kali di seluruh platform dalam dua minggu. Sejumlah media nasional dan regional mengangkat cerita para penjual tersebut sebagai berita utama — bukan karena press release, melainkan karena video yang mereka temukan sendiri di feed mereka.


Cara Tim PR Menyusun Narasi Video yang Emosional Tanpa Kehilangan Esensi Korporat

Ini adalah tantangan terbesar: bagaimana tetap menyampaikan pesan strategis perusahaan sekaligus terdengar manusiawi? Berikut kerangka yang bisa diterapkan:

1. Mulai dari konflik, bukan prestasi Audiens terhubung dengan masalah, bukan solusi. Buka video dengan tantangan nyata yang dihadapi tim atau pelanggan, lalu bawa ke resolusi.

2. Pilih wajah yang tepat, bukan jabatan tertinggi Insinyur yang mengerjakan produknya selama dua tahun lebih meyakinkan daripada VP yang baru membaca briefing semalam.

3. Sisipkan data, tapi buat ia terasa hidup "Kami mengurangi emisi karbon 40%" terasa abstrak. "Kami mengurangi emisi karbon setara dengan menanam 200.000 pohon" terasa nyata.

4. Akhiri dengan undangan, bukan kesimpulan Alih-alih menutup dengan tagline, ajak penonton untuk berkomentar, berbagi, atau mengunjungi tautan tertentu.


Peran Media Intelligence dalam Strategi Video PR

Di sinilah teknologi berperan krusial. Membuat video autentik itu satu hal — memastikan pesan tersebut menjangkau audiens yang tepat dan terukur efektivitasnya adalah hal lain.

Kazee, platform Media Intelligence asal Indonesia, membantu tim PR dan Social Media Manager dalam memantau bagaimana narasi video mereka beresonansi di ruang digital. Mulai dari pelacakan sebaran konten di berbagai platform, analisis sentimen publik terhadap pesan yang disampaikan, hingga identifikasi media mana yang paling aktif mengutip atau mengamplifikasi konten video tersebut — semua tersaji dalam satu dasbor yang komprehensif.

Dengan Kazee, tim PR tidak lagi harus menebak apakah video mereka berhasil. Data berbicara dengan jelas: siapa yang bicara tentang brand Anda, dalam konteks apa, dan sentimen apa yang menyertai percakapan tersebut. Ini memungkinkan iterasi cepat — jika narasi video pertama kurang beresonansi, tim bisa menyesuaikan pendekatan sebelum kampanye berikutnya diluncurkan.


Tren yang Perlu Diperhatikan ke Depan

Menurut laporan Edelman Trust Barometer 2024, kepercayaan terhadap komunikasi korporat terus menurun secara global, sementara kepercayaan terhadap "orang seperti saya" justru meningkat. Ini mendorong tren employee advocacy video — di mana karyawan biasa menjadi juru bicara brand secara organik di platform sosial mereka masing-masing.

Selain itu, platform seperti TikTok kini secara aktif memprioritaskan konten yang memiliki watch-through rate tinggi dalam algoritmanya — artinya video yang mampu menahan penonton hingga detik terakhir akan mendapatkan distribusi organik jauh lebih besar. Ini memberi insentif bagi tim PR untuk berinvestasi dalam storytelling yang kuat, bukan sekadar kualitas produksi.


Kesimpulan: Pesan Korporat Tidak Harus Terdengar Korporat

Era authenticity-driven video bukan berarti perusahaan harus melepas semua kendali atas pesan mereka. Sebaliknya, ini adalah undangan untuk menemukan kembali cara berbicara — lebih jujur, lebih manusiawi, lebih visual.

Press release tidak akan mati. Namun ia perlu teman baru: video pendek yang mampu menyentuh emosi dalam hitungan detik, yang dibagikan bukan karena kewajiban media, melainkan karena memang layak untuk diceritakan ulang.

Bagi para Content Creator Perusahaan, Humas Digital, dan Social Media Manager — ini bukan sekadar perubahan format. Ini adalah perubahan filosofi komunikasi. Dan mereka yang lebih awal memahami ini, akan lebih jauh melangkah.

Share :

Related Articles