Kenapa Tamu Hotel Sekarang Berbeda? Menyingkap Tren Bleisure dan Sustainable Tourism lewat Data
Muhammad Iqbal Anshori
04 August 2026 11:17
Sebuah kamar hotel bintang lima di Bali sempat kosong selama lebih dari 500 hari berturut-turut. Bukan karena rusak, bukan pula karena harganya kelewat mahal, melainkan karena dunia benar-benar berhenti bepergian. General manager hotel tersebut, seperti ribuan pelaku pariwisata lain di Indonesia, hanya bisa menatap kalender pemesanan yang kosong sambil bertanya-tanya: kapan semua ini akan kembali normal? Pertanyaan itu ternyata salah sejak awal. Yang kembali bukanlah "normal" yang lama, melainkan wisatawan dengan kebiasaan, harapan, dan cara memesan perjalanan yang sama sekali baru.
Industri pariwisata dan hospitality memang telah pulih. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia diproyeksikan mencapai 15,3 juta orang sepanjang 2025, mendekati bahkan melampaui level sebelum pandemi, dengan target 16-17 juta pada 2026. Tetapi angka pemulihan ini menyembunyikan cerita yang jauh lebih rumit: wisatawan yang datang hari ini bukan lagi wisatawan yang sama dengan sebelum tahun 2020. Mereka membawa preferensi baru, kekhawatiran baru, dan cara mengambil keputusan yang sama sekali berbeda. Di sinilah Strategic Intelligence — kemampuan membaca sinyal pasar secara real-time dan mengubahnya menjadi keputusan bisnis — menjadi senjata yang menentukan siapa yang benar-benar bangkit dan siapa yang hanya bertahan.
Wisatawan Baru, Aturan Main Baru
Pandemi tidak hanya menghentikan perjalanan, ia juga memaksa orang memikirkan ulang alasan mereka bepergian. Hasilnya, dua pergeseran besar kini mendominasi percakapan industri: bleisure dan pariwisata berkelanjutan.
1. Fenomena Bleisure: Ketika Kerja dan Liburan Melebur
Bleisure — gabungan dari kata business dan leisure — merujuk pada kebiasaan memperpanjang perjalanan dinas untuk keperluan liburan pribadi. Ini bukan tren kecil. Nilai pasar bleisure global diperkirakan mencapai sekitar 762 miliar dolar AS pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh hingga lebih dari 2,2 triliun dolar AS pada 2034.
Data lain memperkuat gambaran ini. Survei dari The Business Travel Magazine menemukan bahwa 76 persen karyawan di perusahaan kecil dan menengah secara rutin memperpanjang perjalanan dinas luar negeri mereka untuk berlibur, meningkat tajam dari 48 persen pada tahun sebelumnya. Generasi Z bahkan menjadikan fleksibilitas ini sebagai pertimbangan memilih tempat kerja — sebanyak 59 persen pekerja Gen Z memilih perusahaan yang secara spesifik menawarkan fleksibilitas perjalanan campuran ini.
Bagi hotel dan maskapai, ini berarti segmentasi lama antara "tamu bisnis" dan "tamu liburan" sudah tidak relevan lagi. Tamu yang check-in hari Senin untuk rapat bisa jadi baru check-out hari Minggu setelah menghabiskan akhir pekan menjelajah kota. Paket kamar, jam kerja co-working space di lobi, hingga rekomendasi aktivitas lokal harus dirancang untuk audiens hibrida ini.
2. Pariwisata Berkelanjutan: Dari Niat Baik Menjadi Kriteria Booking
Pergeseran kedua yang tak kalah signifikan adalah meningkatnya kesadaran wisatawan terhadap dampak perjalanan mereka. Laporan tahunan Booking.com edisi ke-11 mencatat bahwa 85 persen wisatawan global menganggap perjalanan yang lebih berkelanjutan itu penting atau sangat penting bagi mereka. Bahkan lebih dari 100 juta malam kamar dipesan pada 2025 di properti-properti yang memiliki sertifikasi keberlanjutan pihak ketiga.
Yang menarik, kesadaran ini kini melampaui sekadar isu lingkungan. Riset Booking.com edisi sebelumnya menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, lebih dari separuh wisatawan (53 persen) juga mempertimbangkan dampak perjalanan mereka terhadap komunitas lokal, bukan hanya alam. Sebanyak 43 persen wisatawan berencana menghindari destinasi yang terlalu ramai pada tahun mendatang, naik 11 persen dibanding tahun sebelumnya.
Media internasional seperti Skift turut menyoroti bagaimana overtourism — membanjirnya wisatawan di destinasi populer — kini menjadi keluhan resmi warga lokal di banyak kota tujuan wisata dunia, mendorong operator dan pemerintah daerah mengubah strategi promosi mereka agar lebih menyebar dan tidak terpusat.
Mengapa Insting Saja Tidak Lagi Cukup
Dulu, pelaku pariwisata bisa mengandalkan pengalaman bertahun-tahun dan insting pasar untuk merancang strategi. Sekarang, preferensi wisatawan bergerak jauh lebih cepat dari siklus perencanaan tahunan. Tren yang viral di media sosial pagi ini bisa saja sudah basi minggu depan. Ulasan negatif tentang satu insiden kecil bisa menyebar ke ribuan calon tamu dalam hitungan jam sebelum tim manajemen sempat membaca laporan bulanan.
Persoalannya, informasi yang dibutuhkan sebenarnya sudah ada — tersebar di ulasan online travel agent, komentar media sosial, artikel berita, hingga forum perjalanan. Tantangannya bukan lagi soal ketersediaan data, melainkan kecepatan mengolahnya menjadi keputusan yang tepat.
Di sinilah pendekatan Strategic Intelligence berperan. Alih-alih menunggu laporan kepuasan tamu triwulanan, hotel, maskapai, dan agen perjalanan yang unggul kini memantau percakapan publik secara berkelanjutan: apa yang sedang dikeluhkan tamu tentang destinasi kompetitor, bagaimana sentimen publik terhadap kebijakan visa baru, atau seberapa besar minat terhadap istilah seperti "staycation berkelanjutan" di media sosial minggu ini.
Bagaimana Strategic Intelligence Bekerja dalam Praktik
Beberapa penerapan nyata yang biasa dilakukan pelaku industri meliputi:
- Pemantauan sentimen destinasi — melacak bagaimana publik membicarakan sebuah kota atau pulau wisata, termasuk isu kemacetan, kebersihan, atau keamanan, sebelum isu tersebut membesar dan merusak reputasi destinasi.
- Deteksi tren dini — mengenali istilah dan gaya liburan yang sedang naik daun (misalnya workation, slow travel, atau wisata gastronomi lokal) jauh sebelum tren tersebut menjadi arus utama.
- Analisis kompetitor — memahami strategi promosi, harga, dan respons publik terhadap kompetitor terdekat secara real-time, bukan berdasarkan laporan yang sudah kedaluwarsa.
- Manajemen krisis reputasi — merespons keluhan viral atau pemberitaan negatif dalam hitungan jam, bukan hari, sebelum narasi negatif itu terlanjur membentuk opini publik.
Pendekatan berbasis big data dan kecerdasan buatan semacam ini juga sejalan dengan arahan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, yang menekankan pentingnya strategi inovasi berbasis teknologi dan pendekatan big data untuk memetakan potensi sekaligus memperkuat ketangguhan sektor pariwisata pascapandemi.
Studi Kasus: Ketika Data Menjadi Kompas Pemulihan Pariwisata Indonesia
Salah satu contoh nyata bagaimana pendekatan berbasis data mengubah arah strategi pariwisata nasional dapat dilihat dari transformasi kampanye Wonderful Indonesia pascapandemi. Alih-alih kembali ke pendekatan promosi generik seperti sebelum 2020, Kemenparekraf/Baparekraf kini mengarahkan strategi ke pemasaran digital yang lebih personal dan berbasis data, dengan konten promosi yang disesuaikan pada minat segmen spesifik — mulai dari penyelam, penggemar kuliner, hingga pencinta sejarah — memanfaatkan insight dari kecerdasan buatan. Pendekatan ini bahkan diarahkan untuk terintegrasi dengan asisten AI populer, sehingga rekomendasi destinasi Indonesia dapat muncul secara organik dalam rencana perjalanan yang dihasilkan oleh AI.
Perubahan pendekatan ini bukan kebetulan. Ia lahir dari kesadaran bahwa strategi pariwisata yang efektif harus dibangun di atas pemahaman yang terus diperbarui tentang siapa wisatawan hari ini, apa yang mereka cari, dan bagaimana mereka membicarakan pengalaman mereka di ruang publik digital. Deputi Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, bahkan menegaskan bahwa fokus pariwisata Indonesia kini bergeser dari sekadar mengejar jumlah kunjungan menuju kualitas pengalaman berbasis data yang dirasakan wisatawan itu sendiri.
Pelajaran dari studi kasus ini berlaku sama persis di level bisnis individual — baik untuk grup hotel, maskapai, maupun agen perjalanan. Keputusan strategis yang dulunya bersandar pada laporan tahunan kini harus bersandar pada pemantauan yang hidup dan terus bergerak mengikuti percakapan publik.
Dari Data Mentah ke Keputusan Bisnis: Peran Kazee Strategic Intelligence
Tantangan terbesar bagi kebanyakan pelaku hospitality bukanlah kurangnya data, melainkan terlalu banyaknya data yang tersebar di terlalu banyak tempat untuk bisa dipantau manual oleh tim kecil. Di sinilah platform seperti Kazee Media Intelligence dari PT Kazee Digital Indonesia dapat membantu. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan dan big data, Kazee membantu pelaku bisnis mengumpulkan dan menganalisis percakapan dari berbagai sumber media — mulai dari media sosial, portal berita, hingga lebih dari 150 media cetak Indonesia yang telah menjadi mitra terverifikasi — sekaligus mengukur sentimen publik terhadap merek, kompetitor, maupun isu industri secara berkelanjutan.
Kemampuan ini bukan sekadar teori. Bank Indonesia, misalnya, telah memanfaatkan Kazee Media Intelligence untuk memperluas pemahaman terhadap isu-isu publik yang beredar tentang institusinya, memperkuat manajemen krisis, serta merespons tantangan ekonomi dan persepsi masyarakat secara lebih cepat dan tepat sasaran. Prinsip yang sama persis relevan bagi hotel yang ingin tahu lebih awal ketika ulasan negatif mulai menyebar, atau bagi agen perjalanan yang ingin mengetahui destinasi mana yang sedang naik daun sebelum kompetitor menyadarinya. Dengan laporan yang mencakup volume percakapan, tren kata kunci, hingga analisis sentimen, pelaku hospitality dapat mengambil keputusan berbasis bukti alih-alih menebak-nebak arah pasar.
Merancang Ulang Strategi: Beberapa Langkah Praktis
Bagi pemilik hotel, pengelola destinasi, dan pelaku agen perjalanan yang ingin mulai membangun kapasitas Strategic Intelligence, beberapa langkah awal yang bisa dipertimbangkan:
- Petakan sumber percakapan yang relevan — dari ulasan platform online travel agent hingga media sosial lokal dan internasional yang sering dipakai target pasar.
- Bangun kebiasaan memantau sentimen secara rutin, bukan hanya saat krisis terjadi.
- Padukan data internal (tingkat hunian, lama menginap, asal tamu) dengan data eksternal (tren pencarian, sentimen media) agar strategi harga dan promosi lebih akurat.
- Latih tim untuk merespons cepat, karena kecepatan merespons isu di ruang digital sering kali lebih menentukan daripada kualitas produk itu sendiri.
Penutup: Pemulihan Sejati Ada di Ketepatan Membaca Arah
Angka kunjungan wisatawan yang kembali normal memang patut disyukuri, tetapi ia bukan tujuan akhir. Wisatawan yang datang hari ini menuntut sesuatu yang berbeda — fleksibilitas antara kerja dan liburan, jaminan bahwa uang yang mereka keluarkan memberi manfaat bagi komunitas lokal, dan respons cepat ketika ekspektasi mereka tidak terpenuhi. Pelaku hospitality yang mampu membaca pergeseran ini secara real-time, bukan sekadar mengandalkan laporan tahunan, akan menjadi mereka yang benar-benar memimpin babak baru pariwisata Indonesia — bukan sekadar ikut bertahan di dalamnya.