kazee
Blog
Humas di Level C-Suite: Cara Bicara dalam Bahasa Angka untuk Mengambil Hati Direksi

Humas di Level C-Suite: Cara Bicara dalam Bahasa Angka untuk Mengambil Hati Direksi

Muhammad Iqbal Anshori

09 July 2026 10:05

Image


Ruang rapat itu hening selama tiga detik setelah seorang Head of Corporate Communications selesai memaparkan strategi krisisnya kepada direksi. Bukan tepuk tangan yang ia dapat, melainkan satu pertanyaan yang membuatnya gelagapan: "Angkanya mana?" Sejak hari itu, ia sadar bahwa narasi yang indah saja tidak cukup untuk memenangkan kepercayaan orang-orang yang duduk di kursi pengambil keputusan tertinggi perusahaan.

Cerita semacam ini terjadi berulang kali di banyak perusahaan Indonesia. Tim Humas sering kali fasih bercerita tentang reputasi, sentimen publik, dan hubungan media, tetapi kesulitan menerjemahkan semua itu ke dalam bahasa yang dipahami direksi: bahasa angka, tren, dan dampak terhadap bisnis.

Kenapa Direksi Butuh Angka, Bukan Sekadar Cerita

Direksi dan jajaran C-suite terbiasa mengambil keputusan berdasarkan data kuantitatif—laporan keuangan, proyeksi pasar, hingga return on investment (ROI). Ketika Humas hanya menyampaikan kesan kualitatif seperti "media meliput kita secara positif", hal itu sulit disandingkan dengan metrik bisnis lain di meja rapat.

Riset dari Harvard Business Review menegaskan bahwa data yang disajikan tanpa narasi yang jelas justru sering gagal meyakinkan audiens korporat, karena yang dibutuhkan bukan hanya angka, melainkan makna di balik angka tersebut. Dengan kata lain, Humas perlu menguasai dua keterampilan sekaligus: membaca data dan menceritakannya secara ringkas.

Harvard Law School Forum on Corporate Governance juga mencatat bahwa eksekutif yang tampil di hadapan dewan direksi sebaiknya menghindari jargon berlebihan dan menyampaikan pesan dalam bahasa yang lugas, didukung visualisasi data yang relevan dengan risiko dan hasil bisnis.

Tiga Cara Humas Bisa "Bicara Angka" di Depan Direksi

Berikut beberapa poin praktis yang bisa diterapkan tim Humas agar presentasinya lebih meyakinkan:

  • Ubah eksposur media menjadi nilai bisnis. Alih-alih hanya melaporkan jumlah pemberitaan, hitung media value, tren sentimen dari waktu ke waktu, dan bandingkan dengan periode sebelumnya atau dengan kompetitor.
  • Gunakan satu grafik, satu pesan. Direksi tidak punya waktu membaca data mentah; satu visual yang jelas dengan satu kesimpulan utama jauh lebih efektif daripada slide penuh angka.
  • Kaitkan isu reputasi dengan risiko finansial. Tunjukkan bagaimana sebuah krisis kecil di media sosial berpotensi memengaruhi kepercayaan investor atau keputusan pembelian konsumen.
  • Siapkan skenario, bukan hanya laporan. Sajikan proyeksi "jika isu ini tidak ditangani dalam 24 jam" agar direksi memahami urgensi, bukan sekadar hasil akhir.

Belajar dari Kasus PT Kereta Commuter Indonesia (KCI)

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mengalami sendiri betapa pentingnya hal ini ketika perusahaan memperbarui sistem e-ticketing pada 2018. Perubahan itu tak berjalan mulus—antrean penumpang mengular di sejumlah stasiun, termasuk Stasiun Manggarai, dan keluhan pun cepat menjadi sorotan media massa nasional.

Yang menarik, sebuah studi kasus dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara mencatat bahwa tim Corporate Communications KCI tidak hanya berperan sebagai juru bicara, tetapi juga menjadi penasihat bagi manajemen—termasuk dalam keputusan menyediakan tiket kertas sementara sebagai solusi darurat. Peran penasihat semacam ini hanya mungkin terjadi jika Humas mampu menyodorkan data yang meyakinkan direksi: seberapa besar volume keluhan, ke arah mana sentimen publik bergerak, dan risiko reputasi apa yang akan muncul jika keputusan tidak segera diambil.

Studi yang sama mencatat bahwa meski pembenahan dari sisi operasional masih berjalan bertahap, hasil pemantauan media menunjukkan reputasi perusahaan berangsur membaik berkat rangkaian aktivitas komunikasi positif yang dijalankan. Inilah inti dari peran Humas di level C-suite: bukan sekadar melaporkan apa yang terjadi, melainkan menerjemahkan data pemantauan media menjadi dasar pengambilan keputusan bisnis yang konkret.

Peran Media Intelligence dalam Membantu Humas Bicara dengan Angka

Di sinilah pentingnya alat media intelligence bagi tim Humas modern. Platform seperti Kazee Media Intelligence membantu tim komunikasi mengubah tumpukan pemberitaan dan percakapan digital menjadi dasbor data yang mudah dibaca—mulai dari tren sentimen, deteksi anomali percakapan negatif, hingga estimasi media value. Kazee sendiri pernah membahas bagaimana kombinasi kecerdasan buatan dan analitik media membantu tim PR maskapai penerbangan mendeteksi krisis lebih dini dan merancang strategi komunikasi berbasis data, bukan sekadar asumsi.

Dengan laporan yang otomatis tersaji dalam bentuk grafik dan ringkasan, Humas tidak perlu lagi menghabiskan waktu berjam-jam menyusun rekap manual. Waktu yang tersisa bisa dipakai untuk hal yang lebih penting: merumuskan strategi dan meyakinkan direksi dengan argumen berbasis data.

Penutup: Angka adalah Bahasa Cinta Direksi

Pada akhirnya, kepercayaan direksi terhadap fungsi Humas tidak dibangun lewat cerita yang menyentuh hati saja, melainkan lewat kombinasi antara narasi yang kuat dan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Ketika Humas mampu berbicara dalam bahasa angka yang sama dengan direksi, posisinya di meja pengambilan keputusan pun semakin kokoh—bukan lagi sekadar juru bicara, melainkan mitra strategis perusahaan.

Share :

Related Articles