tka-china
Source : liputan6.com

Sejarah mencatat dalam 10 tahun terakhir, jumlah tenaga kerja asing asal China terus menerus mengalami kenaikan.

Tak jarang, isu terkait masuknya TKA China ke Indonesia juga seringkali mengundang reaksi negatif dari masyarakat. Keberadaan mereka dianggap mengambil alih pekerjaan tenaga lokal.

Lantas, apa yang menjadi penyebab banyaknya TKA China masuk ke Indonesia? Apakah karena kurangnya skill tenaga kerja Indonesia, sehingga harus mendatangkan tenaga kerja asing? Ataukah ada alasan lain?

Lalu, bagaimana pemerintah menanggapi hal ini dan bagaimana nasib tenaga kerja Indonesia dengan kedatangan TKA China? Mari kita simak jawabannya dalam ulasan ini.

Awal Mulanya…

Kita akan mulai dengan melihat ke belakang ketika isu ini kembali meruak.

Semua bermula saat pandemi melanda. Sebuah pesawat carter mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara pada 7 Desember 2021. Pesawat itu datang dari China, membawa 126 warga negara China.

Disaat arus penerbangan harusnya dibatasi untuk meminimalisir penyebaran covid-19 dari warga negara asing, pemerintah justru membuka pintu lebar-lebar untuk mereka masuk ke Indonesia.

Ini membuat banyak warganet bertanya-tanya. Mengapa? Apakah mereka benar-benar turis? Kepentingan apa yang membawa mereka berbondong-bondong datang ke Indonesia?

Setelah ditelusuri, ternyata mereka adalah tenaga kerja asing asal China yang akan bekerja di Indonesia.

96,57 Ribu TKA China di Indonesia Saat Ini

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat, jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia sebanyak 88.271 orang ada 2021.

Namun, di tahun 2022 kembali bertambah 8,3 ribu orang (9,4%) sehingga totalnya menjad 96,57 ribu pekerja pada akhir Mei 2022. Hal ini seiring dengan dilonggarkannya pembatasan kegiatan sosial, yang berimbas pada tumbuhnya aktivitas ekonomi.

tka-china
Source : databoks.katadata.id

Tiongkok tercatat sebagai negara asal TKA terbesar di Indonesia, diikuti Jepang, Korea Selatan dan India.

Banyaknya proyek investasi asing yang menggunakan teknologi baru dari Tiongkok membuat jumlah TKA dari negara tersebut cukup besar, bahkan hampir mencapai separuh dari total TKA pada Mei 2022.

Dari jumlah tersebut, ada 44,71 ribu TKA (46,29%) yang bekerja di Indonesia sebagai profesional. Terdapat pula 21,63 ribu TKA (22,4%) yang bekerja sebagai konsultan/advisor.

tka-china
Source : databoks.katadata.id

Sebanyak 20,48 ribu TKA (21,21%) bekerja sebagai manager, ada 9,05 ribu TKA (9,38%) sebagai direksi, serta terdapat 701 TKA (0,73%) yang menjabat sebagai komisaris.

Berdasarkan jenis usaha tempat TKA bekerja, terdapat 49,43 ribu TKA (51,18%) bekerja di sektor jasa. Ada pula 44,8 ribu TKA (46,39%) berkerja di sektor industri dan sebanyak 2,35 ribu TKA (2,43%) bekerja di sektor pertanian dan maritim.

Mengapa Angka TKA China Naik Terus?

Kenaikan angka tenaga kerja asing China ini sejalan dengan meningkatnya nilai investasi China di Indonesia. Sebagian besar investasi mereka tujukan untuk sektor pertambangan dan infrastruktur.

Investasi besar yang digelontorkan China dalam sektor pertambangan di Indonesia, disusul datangnya perusahaan-perusahaan tambang raksasa China di Sulawesi—pulau dengan cadangan nikel terbesar di dunia.

Pada semester I 2020, nilai investasi China menyentuh 1,3 miliar dolar AS, naik 8,3% dari sebelumnya (semester I 2019) sebesar 1,2 miliar dolar AS.

Sementara itu, jika dilihat dari investasi asing langsung selama 2015 – triwulan III 2020, China berada di posisi tiga besar dibawah Jepang dan Singapura, dengan nilai investais 17,29 miliar dolar AS. (Badan Koordinasi Penanaman Modal).

Simpang siur kabar ini, membuat Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah ikut menanggapi.

“Investasi yangmasuk ke Indonesia banyak dari China berbanding lurus dengan TKA China yang ditempatkan di Indonesia.”

Ida Fauziyah dalam Rapat Komisi IX DPR di Senayan, Juni 2022

Merasa telah berinvestasi dalam jumlah besar di beberapa sektor di perusahaan, China ingin mempekerjakan tenaga kerja dari negara asal mereka di Indonesia.

Sedangkan jenis pekerjaan yang bisa diisi ternyata adalah buruh atau pekerja kasar, yang dimana pekerjaan tersebut bisa diisi oleh tenaga lokal.

Inilah yang akhirnya menjadi polemik.

Tak hanya itu, rendahnya serapan tenaga kerja di dalam negeri juga membuat isu ini menjadi kontroversial.

Guliran Isu TKA China ke Indonesia dalam Pantauan Media

Di media sosial, perbincangan terkait tenaga kerja asing asal China yang masuk ke Indonesia semakin banyak dibicarakan. Dalam periode 28 Juni-29 Juli, warganet banyak membicarakan isu ini dalam media sosial Twitter dan puncaknya terjadi pada 29 Juni 2022.

tka-china
Source : Kazee Media Monitoring (Pergerakan Data, 28 Juni-28 Juli 2022)

Isu soal TKA China sebenarnya bukanlah isu baru. Pasalnya, seringkali isu ini kerap menarik reaksi negatif dari warganet.

Source : Kazee Media Monitoring, Sentimen Analysis
Source : Kazee Media Monitoring, Sentimen Analysis

Isu yang diberitakan oleh portal media dan berbagai cuitan netizen, mayoritas bersentimen negatif sebesar 66,2%.

Itu artinya, kebijakan pemerintah atas persetujuan kunjungan TKA China ke Indonesia kurang disambut baik oleh publik.

Kekhawatiran akan perebutan ladang tenaga kerja dan ketatnya persaingan menjadi salah satu alasan mengapa publik justru geram dengan kedatangan tenaga kerja asing.

Polemik Antara TKA dan Tenaga Kerja Dalam Negeri

Jika ada yang bilang kalau TKA China di Indonesia hanya menduduki jabatan manajerial, hal itu salah besar. Mengapa?

Dilansir dari penelusuran kumparan.com, ternyata  tak sedikit pula TKA China yang merupakan buruh kasar, bukan pekerja dengan keahlian tertentu.

Kabar ini terdengar dari salah satu pekerja Indonesia bernama Habel. Sejak 2019 silam, ia bekerja di salah satu perusahaan tambang di Sulawesi.

Habel mengatakan bahwa di tempatnya bekerja, banyak TKA China yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh kasar.

“Bahkan ada buruh China yang udah umur 40-an.” ujar Habel

Kegiatan mengaduk semen hingga menumpuk batu jadi jobdesk TKA China di perusahaan itu. Bahkan, beberapa pekerja Indonesia juga sesekali mengajari mereka.

Habel bahkan memberikan pernyataan mengenai hal yang belum banyak orang tahu tentang TKA China. Bahwa sebagian besar buruh China tinggal di pegunungan yang jauh dari kawasan pabrik untuk menghindari inspeksi dadakan dari pemerintah.

Diskriminasi juga kerapkali ia rasakan meski dalam tingkat jabatan yang sama. Baik dari fasilitas dari makanan hingga gaji yang diberikan.

Pekerja China dengan bebasnya memilih menu makanan yang variatif dan gaji yang tinggi sedangkan tenaga kerja Indonesia terpaksa makan dengan menu seadanya dan mendapatkan gaji lebih rendah dibandingkan tenaga kerja asing.

Jika hal ini benar terjadi di lapangan, tentu sangat merugikan tenaga kerja dalam negeri. Tak heran jika publik ikut

Tak hanya publik, para tokoh politik juga ikut menanggapi isu ini.

Mantan kepala BIN, Sutiyoso mengungkapkan kekhawatirannya akan terus berdatangannya tenaga kerja asing (TKA) dari China, dia bahkan menjamin mereka tak akan kembali lagi ke negaranya.

“Jadi kita harus waspada, saya jamin orang itu gak akan pulang ke negaranya, jangan sampai kita gak sadar-sadar akhirnya mereka yang mayoritas suatu saat nanti.”

Sutiyoso
Source : Kazee Media Monitoring, Top Tokoh

Pernyataan Sutiyoso sontak mendapatkan tanggapan dari seorang Pengamat Politik, Rocky Gerung.

“Pengusaha Tiongkok pasti jadi intelijen negara, karena bank Tiongkok itu kan mensponsori habis-habisan pembangunan di negara-negara Arab, Afrika dengan maksud geopolitik. Jadi sekali lagi, Indonesia harus tahu, investasi Tiongkok itu selalu investasi dalam kerangka strategi geopolitik.”

Rocky Gerung

Ia menganggap bahwa merangkapnya TKA asal Tiongkok sebagai intelijen sudah menjadi tradisi Tiongkok sejak era Deng Xiaoping pada 1970-an.

Sementara itu, Presiden RI Joko Widodo mengingatkan bahwa Indonesia sebagai negara majemuk sehingga masyarakat harus lebih terbuka menerima perbedaan, termasuk menerima TKA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *