Monitoring Isu Media Terkait Seruan Tolak Rusia di G20

Group of twenty photo created by tartila – www.freepik.com

Jelang pertemuan G20 di Bali, pada November 2022 mendatang, sejumlah negara Barat dan Amerika Serikat bersuara menolak rencana kehadiran Presiden Rusia, Vladimir Putin di pertemuan tersebut. Alasannya tentu terkait dengan serangan Rusia ke Ukraina yang telah menelan banyak korban jiwa. Tidak hanya menolak Putin, Menteri Keuangan AS Janet Yellen dan sejumlah pejabat tinggi keuangan dunia pun melakukan aksi walkout dari rapat G20 di Washington, yang dipimpin Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati pada Rabu (20/04).

Apa Itu G20 Beserta Tujuanya ?

Dilansir dari detik.com, G20 adalah forum multilateral strategis yang menghubungkan negara-negara maju dan berkembang di dunia. Kelompok ini terdiri dari 20 negara, serta perwakilan dari International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB). G20 memegang peran yang strategis dalam mengamankan pertumbuhan dan kemakmuran ekonomi global di masa depan. Secara kolektif forum ini merepresentasikan sekitar 65 persen penduduk dunia, 79 persen perdagangan global, dan setidaknya 85 persen perekonomian dunia.

G20 bertujuan untuk mendiskusikan kebijakan-kebijakan dalam rangka mewujudkan stabilitas keuangan internasional. Secara umum, tujuan G20 adalah mewujudkan pertumbuhan global yang kuat, berkelanjutan, seimbang, dan inklusif. Namun seiring dengan invasi Rusia terhadap Ukraina sejak 24 Februari 2022 lalu, membuat Rusia yang juga merupakan anggota G20 mendapat kecaman dari sejumlah negara termasuk Amerika Serikat. Hal tersebut memicu aksi penolakan kehadiran Rusia pada forum G20 November mendatang di Bali, Indonesia.

Aksi Walk Out Hingga Ancaman Boikot G20

Seperti dilansir dari bbc.com bahwa Inggris, Amerika Serika (AS)t dan Kanada melakukan aksi walkout terkoordinasi dari pertemuan G20. Perwakilan dari tiga negara tersebut meninggalkan sesi saat delegasi Rusia berbicara pada pertemuan di Washington pada Rabu (20/04). Beberapa menteri keuangan dan gubernur bank sentral yang hadir secara virtual pun mematikan kamera mereka ketika delegasi Rusia berbicara.

Adapun pertemuan di Washington berfokus pada cara membantu pemulihan ekonomi dunia dari syok baru yang disebabkan invasi Rusia, yang telah mendorong kenaikan harga makanan dan bahan bakar. Hal tersebut juga membuat IMF menurunkan prospek pertumbuhan globalnya menjadi 3,6 persen tahun ini.

Sementara itu, sebelumnya Menteri Keuangan AS Janet Yellen mengatakan AS akan terus bekerja dengan Indonesia untuk memajukan urusan G20, termasuk mengatasi dampak negatif invasi Rusia ke Ukraina terhadap ekonomi global. Yellen juga menyatakan Rusia mestinya dikeluarkan dari forum kerja sama G20 dan AS akan memboikot sejumlah pertemuan G20 di Bali jika pejabat Rusia hadir. Sehingga aksi walk out AS dan sejumlah pejabat tinggi keuangan dunia pada rapat yang dipimpin oleh Menteri Keungan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati merupakan bentuk protes atas hadirnya delegasi Rusia.

Baca Juga : Melalui Ajang KTT G20 RI Bidik Investasi Jumbo

Analisis Media Monitoring Terkait Seruan Tolak Rusia di G20

Berdasarkan polemik yang terjadi terkait seruan tolak Rusia hingga ancaman boikot G20 seperti yang telah dipaparkan di atas, Kazee Dgital Indonesia sebagai perusahaan yang bergerak di bidang big data, mencoba menganalisis data terkait yang tersebar di media menggunakan tools media monitoring. Anaisis dilakukan dengan periode 23 Maret hingga 21 April 2022.

Pergerakan Data

Pada grafik di atas dapat dilihat bahwa ekspos pemberitaan dan perbincangan terkait seruan tolak Rusia serta boikot G20 bergerak fuktuatif. Adapun puncak data ada pada tanggal 7 April 2022.

Analisis Sentimen

Pemberitaan terkait seruan tolak Rusia dan boikot G20 terpantau didominasi oleh sentimen negatif dengan total data 229. Adapun sentimen positif berjumlah 117 dan sentimen netral sebanyak 43.

Statement Sejumlah Tokoh Terkait Seruan Tolak Rusia di G20

Luhut Binsar Pandjaitan (Menko Bidnag Kemaritiman dan Investasi)

“Kita lihat, kita tunggu, kita tunggu nanti, G20 itu kan forum ekonomi jadi tidak ada forum politik. Kita lihat saja, kan masih terlalu dini kita komentar,”

Lyudmila Vorobieva (Duta Besar Rusia untuk Indonesia)

“Kami yakin bahwa masalah ekonomi tidak dapat diselesaikan tanpa partisipasi Rusia di G20.  Forum ini, seperti yang kita ketahui, berorientasi pada ekonomi,”

Muhammad Farhan (Komisi I DPR dari Fraksi Nasional Demokrat)

“Keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah KTT G-20 dinilai dari hadirnya seluruh kepala negara. Satu saja tidak datang, Indonesia gagal menjadi tuan rumah,”

TB Hasanuddin (Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDIP)

“Sebaiknya negara-negara anggota G20 mengedepankan kepentingan global ketimbang aktif saling boikot kehadiran dalam G20. Kehadiran semua anggota G20 akan lebih komprehensif,”

Justin Trudeau (Perdana Menteri Kanada)

“Rusia yang saat ini melakukan penyerangan ilegal ke Ukraina, telah menjungkirbalikkan pertumbuhan ekonomi semua orang di seluruh dunia. Dengan begitu, mereka tak mungkin menjadi mitra konstruktif dalam cara kita mengelola krisis,”

Scott Morrison

“Saya yakin Presiden Widodo akan merasakan hal yang sama, bahwa tujuan sebenarnya tidak dapat dicapai. Jadi, saya pikir kita perlu memiliki orang-orang di ruangan yang tidak menyerang negara lain.”

Tanggapan Warganet di Twitter

Tokoh Paling Banyak Mendapat Sorotan Terkait Seruan Tolak Rusia di G20

Berikut merupakan 5 tokoh yang paling banyak mendapat sorotan media terkait isu seruan tolak Rusia dan boikot forum G20.

Top Keyword

Kata kunci “G20” dan “Rusia” menjadi kata kunci yang paling banyak digunakan, hal ini berkaitan dengan respon sejumlah negara Barat di G20 yang protes karena kehadiran Rusia pada rapat G20 di Washington.

Top Hashtag

Hashtag atau tagar #KTG20 menjadi tagar yang paling banyak digunakan terkait isu seruan tolak Rusia dan boikot G20. Penggunaan hashtag tersebut berkaitan dengan sejumlah pihak yang tetap mendukung untuk mengundang Rusia dalam forum G20, karena forum G20 merupakan forum untuk membahas perekonomian global bukan forum politik.

Kesimpulan

Seruan tolak Rusia pada forum G20 menjadi perbincangan hangat di media hingga saat ini. Penolakan Rusia diserukan oleh sejumlah negara Barat sebagai aksi protes seiring dengan invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Februari 2022 yang telah menelan banyak korban jiwa. Hal tersebut menuai berbagai tanggapan dari sejumlah tokoh dan warganet di media sosial.

Sejumlah negara yang menolak kehadiran Rusia beranggapan bahwa tidak seharunya mengundang negara yang telah melakukan tindakan kekerasan yang menghancurkan aturan hukum internasional. Sementara itu Indonesia sebagai tuan rumah beranggapan bahwa forum G20 bukan forum politik, melainkan forum yang bertujuan untuk membahas masalah perekonomian global sehingga perlu adanya kehadiran dari negara anggota G20. Selain itu Indonesia juga ingin mempertemukan pihak-pihak yang berselisih dan memediasi pihak-pihak yang selama ini tidak bertemu.

Sumber :

Artikel Lainnya

Buat Keputusan Menjadi Lebih Baik Dengan Bantuan Data

Manfaatkan kekuatan big data dengan bantuan kecerdasan buatan untuk pengambilan keputusan organisasi yang optimal