Menelisik Tradisi Merantau dan Stigma "Jakarta Keras"

Menelisik Tradisi Merantau dan Stigma "Jakarta Keras"

Bayu Septian

14 August 2022 03:12

merantau
Picture created by Antara

Merantau menjadi suatu kebiasaan yang sudah dilakukan sejak lama oleh masyarakat Indonesia.

Bicara tentang merantau, tentu tak bisa dipisahkan dari gemerlapnya Ibukota Jakarta.

Sebuah provinsi kecil padat penduduk yang didalamnya terdiri dari berbagai suku di Indonesia.

Namun, tahukah Anda? Siapa yang awalnya memulai tradisi merantau semacam ini?

Apa yang menyebabkan orang daerah merantau ke ibukota? Apakah karena kurangnya lapangan kerja di desa atau ada alasan lain?

Mari kita temukan jawabannya dalam ulasan dibawah ini.

Asal Usul Tradisi Merantau

Jika Anda ke ibukota, maka Anda dapat dengan mudah menemui banyak pekerja dari berbagai profesi dari suku dan daerah yang berbeda-beda.

Hingga saat ini, Jakarta masih menyandang sebagai pusat perekonomian Indonesia.

Tak heran jika kota ini masih menjadi magnet yang menarik bagi pendatang dari daerah-daerah lain di Indonesia.

Tapi, tahukah Anda? Bagaimana asal usul tradisi merantau?

Kata "merantau" awalnya berasal dari bahasa dan budaya Minangkabau yaitu "rantau".

Rantau bermakna wilayah-wilayah yang berada di luar wilayah inti Minangkabau (tempat awal mula peradaban Minangkabau).

Merantau adalah perginya seseorang dari tempat asal di mana ia tumbuh besar ke wilayah lain untuk menjalani kehidupan atau mencari pengalaman sekaligus meraih kesuksesan.

Suku Minangkabau merupakan salah satu etnis terbesar di Indonesia yang sangat kental dengan tradisi merantaunya.

Masyarakat Minang memegang salah satu filosofi hidup “Tak kan Benih Basa Dipesayaman” yang berarti tidak akan tumbuh suatu bangsa jika hanya menetap di kampung  halaman.

Filosofi hidup ini kemudian diwariskan secara turun temurun sebagai modal memupuk kemandirian.

Ketika beranjak dewasa, orang Minang, terutama para lelaki dianjurkan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mengadu nasib atau mencari ilmu demi memperbaiki kehidupannya.

Selain itu, orang Minang juga punya pandangan bahwa merantau adalah sarana untuk belajar lebih banyak hal.

Pengalaman atau ilmu yang didapatkan dari perantauan diharapkan membuat seseorang menjadi lebih berguna dalam masyarakat ketika kembali ke kampung halaman.

Sebenarnya, tradisi merantau sudah dilakukan sejak lama oleh orang dahulu, khususnya pejuang dan pahlawan Indonesia seperti Tan Malaka, Mohammad Hatta, dan Sutan Sjahrir.

Ternyata ada beberapa suku di Indonesia yang gemar merantau. Bahkan, merantau sudah menjadi tradisi atau budaya yang sejak ratusan tahun lalu diturunkan oleh para leluhur mereka dan diteruskan hingga kini.

Selain suku Minangkabau, ada beberapa etnis yang banyak dari warganya melakukan aktivitas merantau, diantaranya Suku Bugis-Makassar, Banjar, Bawean, Batak, Madura Dan Jawa.

Kenapa Beberapa Etnis Memilih Merantau?

Banyak faktor, tujuan, dan motivasi yang mendorong orang untuk merantau. Diantaranya faktor tradisi atau budaya dari suatu kelompok etnis, juga ada faktor ekonomi, pendidikan dan faktor tradisi.

1. Faktor Ekonomi

Bagi para perantau, faktor ekonomilah yang menjadi alasan mengapa akhirnya mereka memutuskan untuk mengadu nasib di ibukota. Pembangunan yang tidak merata yang lebih terpusat di kota-kota besar, membuat banyak orang Indonesia dari berbagai etnis pergi merantau terutama ke Jakarta dan pulau Jawa untuk mencari pekerjaan.

2. Faktor Pendidikan

Banyak dari perantau juga yang memilih untuk merantau karena ingin melanjutkan pendidikan. Mereka berpikir bahwa di kota besar, seperti Jakarta, kesempatan untuk memilih berbagai jenjang pendidikan yang bagus lebih terbuka dan kualitas pendidikan yang lebih baik.

3. Faktor Tradisi

Di beberapa daerah khususnya Minangkabau, penduduknya merantau bukan hanya disebabkan karena faktor ekonomi saja, tetapi juga karena tradisi atau kebudayaan yang masih dipercaya dan dilakukan hingga sekarang.

Masyarakat Minangkabau adalah suku yang menganut sistem matrelineal di dunia. Sistem matrilineal ini hanya memberikan harta pusaka atau hak waris kepada pihak perempuan, sedangkan pihak laki-laki hanya memiliki hak yang kecil.

Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Namun perempuan minang pada masa sekarang juga telah banyak pergi merantau.

Menelisik Stigma “Jakarta Keras”

Jakarta jadi kota tujuan para perantau dari berbagai belahan di Indonesia. Kota yang terkenal dengan macet, padat dan tidak pernah tidur ini menjadi pilihan bagi mereka yang mengadu nasib. Hingga munculah stigma “Jakarta Keras.”

Banyaknya orang yang merantau membuat populasi di Ibukota Jakarta semakin membludak.

Hingga tahun 2022, total penduduk DKI Jakarta mencapai 10,6 juta jiwa. Proses urbanisasi di Jakarta membuat orang beramai-ramai untuk berimigrasi ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.

Ini menjadi titik mula Jakarta mengalami kepadatan penduduk yang terus meningkat setiap tahunnya. Lantas, mengapa harus Jakarta yang jadi pilihan para perantau untuk mencari mata pencaharian?

BPS juga mencatat bahwa DKI Jakarta menjadi lima peringkat teratas provinsi dengan jumlah pencari kerja di Indonesia dengan total sebanyak 214.705 pencari kerja.

Lantas, mengapa harus Jakarta yang jadi pilihan para perantau untuk mencari mata pencaharian?

Sebelum membahas lebih jauh, berdasarkan pantauan media, isu terkait pencari kerja di Jakarta mencapai 2000 penyebutan dari berbagai media sosial dan pemberitaan portal berita.

Source : Kazee Media Monitoring, Pergerakan Data, 6-12 Agustus
Source : Kazee Media Monitoring, Tren Sentimen

Isu ini didominasi oleh sentimen positif, meski begitu ada pula beberapa isu dengan sentimen negatif yaitu pencari kerja yang rela berdesak-desakan datangi Jakarta Job Fair dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan.

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi seakan menggambarkan bahwa lapangan kerja di Jakarta lebih menjanjikan.

Belum lagi, iming-iming gaji besar dan hingar bingar kehidupan kota membuat para pendatang semakin yakin bahwa mereka bisa hidup mapan setelah datang ke Jakarta.

Beberapa diantara mereka justru menjadi pekerja sosial yang mungkin bisa mereka lakukan di daerah asal mereka.

Source : Kazee Media Monitoring, Top Tokoh

Untuk mengatasi hal ini, Ahmad Riza Patria, Wakil Gubernur DKI Jakarta menggelar job fair untuk menekan angka pengangguran di Jakarta.

“Bursa lowongan kerja ini diikuti lebih dari 200 persuahaan swasta terkemuka serta terdapat 20 ribu lowongan pekerjaan yang tersedia.”

Ahmad Riza Patria, Wakil Gubernur DKI Jakarta

Melihat fenomena merantau dan stigma kerasnya ibukota, apakah masih ada di benak Anda untuk merantau dan mengadu nasib di kota perantauan?

Share :

Related Articles

No related posts