Mengenal Bahan Kandungan Vaksin COVID-19

Background photo created by rawpixel.com – www.freepik.com

Berdampak sangat buruk dan telah merenggut banyak jiwa di dunia, para peneliti di bidang Kesehatan terus meneliti dan melakukan uji klinis vaksin untuk meredakan efek buruk pandemi COVID-19 berkelanjutan. Dilansir dari website Biofarma, Vaksin adalah antigen (mikroorganisma) yang diinaktivasi atau dilemahkan yang bila diberikan kepada orang yang sehat akan menimbulkan antibodi spesifik terhadap mikroorganisma tersebut, sehingga bila kemudian terpapar, akan kebal dan tidak terserang penyakit.

Untuk mengenal lebih jauh tentang vaksin COVID-19, dikutip dari Gavi.org, terdapat empat jenis kandungan yang digunakan untuk uji klinis vaksin COVID-19 diantaranya adalah sebagai berikut:

  • VIRUS UTUH

Banyak vaksin konvensional menggunakan virus utuh untuk memicu respons imun. Ada dua jenis kandungan. Pertama, vaksin hidup yang dilemahkan menggunakan bentuk virus yang dilemahkan yang masih dapat bereplikasi tanpa menyebabkan penyakit. Kedua, vaksin inactivated menggunakan virus tidak aktif (inactivated) yang materi genetiknya telah dihancurkan sehingga tidak dapat bereplikasi, tetapi masih dapat memicu respons imun. Kedua jenis tersebut dibuat dengan teknologi mapan. Namun, untuk vaksin virus yang dilemahkan dapat berisiko menyebabkan penyakit pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, selain itu vaksin ini juga butuh disimpan di suhu dingin.

  • SUBUNIT PROTEIN

Vaksin subunit menggunakan potongan patogen – seringkali berupa fragmen protein – untuk memicu respons imun. Dengan demikian, hal ini meminimalkan risiko efek samping, tetapi juga bisa membuat respons imun lebih lemah. Inilah sebabnya mengapa vaksin ini sering membutuhkan substansi yang memperkuat respon imun terhadap antigen untuk membantu meningkatkan respon imun. Contoh vaksin subunit yang ada adalah vaksin hepatitis B.

  • ASAM NUKLEAT

Vaksin asam nukleat menggunakan materi genetik – baik RNA atau DNA – untuk memberikan instruksi kepada sel untuk membuat antigen. Dalam kasus COVID-19, ini biasanya protein spike COVID-19. Begitu materi genetik ini masuk ke dalam sel manusia, ia menggunakan pabrik protein sel kita untuk memproduksi antigen yang akan memicu respons imun. Keuntungan dari vaksin jenis ini adalah mudah dibuat, dan murah. Karena antigen diproduksi di dalam sel kita sendiri dan dalam jumlah besar, reaksi kekebalan harus kuat. Namun, kelemahannya adalah sejauh ini, tidak ada vaksin DNA atau RNA yang dilisensikan untuk penggunaan manusia, yang menyebabkan lebih banyak rintangan untuk peraturan persetujuan uji klinis. Selain itu, vaksin RNA perlu disimpan pada suhu yang sangat dingin, -70 derajat Celcius atau lebih rendah, yang dapat menjadi tantangan bagi negara-negara yang tidak memiliki peralatan penyimpanan dingin khusus, terutama negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

  • VEKTOR VIRUS

Vaksin vektor virus juga bekerja dengan memberikan instruksi genetik sel untuk memproduksi antigen. Tetapi mereka berbeda dari vaksin asam nukleat karena mereka menggunakan virus yang tidak berbahaya. Salah satu jenis virus yang sering dijadikan vektor adalah adenovirus yang merupakan penyebab flu biasa. Seperti halnya vaksin asam nukleat, mesin sel manusia dibajak untuk menghasilkan antigen dari instruksi tersebut, untuk memicu respons imun. Vaksin vektor virus ini seperti meniru infeksi virus alami dan karenanya harus memicu respons imun yang kuat. Namun, karena ada kemungkinan banyak orang telah terpapar virus yang digunakan sebagai vektor, beberapa orang mungkin kebal terhadap vaksin ini dan menyebabkan vaksin menjadi kurang efektif.

Kesimpulannya, terdapat empat jenis kandungan vaksin yang diuji klinis untuk vaksin COVID-19 yaitu virus utuh (whole virus), subunit protein, asam nukleat, vektor virus. Salah satu kandungan tersebut terdapat dalam vaksin COVID-19 yang sudah mendapat persetujuan WHO diantaranya adalah Oxford–AstraZeneca, Pfizer–BioNTech, Janssen, Moderna, Sinopharm-BBIBP, Sputnik V, CoronaVac, Covaxin, Sputnik Ligt, Convidecia, Sinopharm-WIBP, Abdala, EpiVacCorona, Zifivax, Soberana 02, QazCovid-in, CoviVac, Minhai, COVIran Barekat, Chinese Academy of Medical Sciences Vaccine, Medigen, dan ZyCoV-D.

Dilansir dari data website UNDP, per 3 November 2021 setidaknya satu dari dua orang atau setara dengan 64.1% populasi warga di negara dengan pendapatan tinggi sudah divaksin minimal satu dosis. Sedangkan di negara berpenghasilan rendah, satu dari delapan belas orang atau 5.48% populasi warga sudah divaksin COVID-19 setidaknya satu dosis.

Sebelumnya, Virus COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019. Setelah menyebar ke seluruh bagian dunia, WHO pun menyatakan bahwa COVID-19 merupakan pandemi. Dilaporkan oleh WHO, secara global, pada 11 November 2021, terdapat 251.266.207 kasus COVID-19 yang dikonfirmasi, termasuk 5.070.244 kasus kematian akibat COVID-19.

Referensi:

https://www.who.int/health-topics/coronavirus#tab=tab_1

https://www.gavi.org/vaccineswork/there-are-four-types-covid-19-vaccines-heres-how-they-work

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_COVID-19_vaccine_authorizations

https://www.biofarma.co.id/id/researcher/detail/vaksin

https://data.undp.org/vaccine-equity/accessibility/

#VaksinCOVID-19 #UNDP #WHO #COVID-19 #China #Biofarma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *