Harumnya Bisnis Kopi Franchise dan Potensi Pertumbuhan Ekonomi

Harumnya Bisnis Kopi Franchise dan Potensi Pertumbuhan Ekonomi
Kopi Kekinian (Sumber: Freepik.com)

Menjamurnya model bisnis kopi franchise di Indonesia belakangan ini, turut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi negara, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini. Sebagaimana yang kita ketahui, kopi merupakan salah satu komoditas paling dicari di seluruh dunia setelah kelapa sawit dan karet alam, sebab diyakini mempunyai prospek cerah dan nilai ekonomi yang tinggi. Berkaitan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa kopi juga menyumbang persentase terhadap produk domestik bruto (PDB) perkebunan sebesar 16,15%.

Kedai kopi franchise tumbuh agresif di tengah lanskap bisnis kopi yang kompetitif. Dengan beragam menu kopi yang kekinian, keunikan rasa, kemasan praktis, harga terjangkau, dan branding modern, menjadikan kopi sebagai minuman favorit di segala segmen. Bahkan, hal tersebut sudah menjadi gaya hidup bagi masyarakat perkotaan.

Pada prinsipnya, saat ini masyarakat semakin mudah untuk mendapatkan kopi favoritnya, yaitu hanya dengan sentuhan jari melalui aplikasi pemesanan makanan. Tak hanya itu, transaksi dalam bentuk digital juga kerap digemari masyarakat modern. Kemudahan tersebut mendapatkan respon positif dari banyak pihak. Dalam konteks ini, keberadaan media sosial pun dimanfaatkan kedai kopi franchise sebagai sarana promosi, bahkan sebagian dari itu berhasil melalui teknik Word of Mouth (pemasaran dari mulut ke mulut). Di lain sisi, kedai kopi franchise juga tentunya memberikan banyak penawaran diskon untuk konsumen. Sehingga hal ini mendongkrak tingkat produksi dan konsumsi semakin tinggi. Strategi tersebut terbilang sukses, sebab kedai kopi franchise memberikan pengalaman yang berbeda untuk konsumennya. Artinya, hal itu dapat meningkatkan brand awareness, brand loyalty, serta customer lifetime value.

Melalui pendekatan teknologi big data, Kazee Media Monitoring telah memetakan data berdasarkan peringkat dengan menggunakan media sosial Twitter sebagai basis analisis untuk mengetahui kecenderungan minat masyarakat selama periode 01 September hingga 18 Oktober 2021. Sehingga bisa mengkaji perilaku dan persepsi masyarakat dalam mengonsumsi kopi.

Kata kunci yang digunakan adalah:

“Janji Jiwa”, “Starbucks”, “Sbux”, “Starbak”, “Kopi Kenangan”, “Fore Coffee”, “Kopi Fore”, “Kedai Kopi Kulo”, “Excelso”, “Kopi Lain Hati”, “Kopi Soe”, “Filosofi Kopi”, “Kopi Toko Djawa”, “Point Coffee”, “The Coffee Bean”, “Maxx Coffee”.

Selama periode analisis ini, data yang terhimpun dalam linimasa Twitter sebanyak 34,489 cuitan. Dari data tersebut dibandingkan dengan 13 brand kedai kopi franchise yang saat ini marak dibicarakan berdasarkan perspektif media monitoring.

Perbandingan Ekspos Kedai Kopi Franchise (Sumber: Kazee Media Monitoring)
Perbandingan Ekspos Kedai Kopi Franchise (Sumber: Kazee Media Monitoring)

Selama periode ini, Kazee Media Monitoring memetakan 13 brand kedai kopi franchise di Indonesia yang mayoritas disukai masyarakat, yaitu Janji Jiwa, Starbucks, Kopi Kenangan, Fore Coffee, Kedai Kopi Kulo, Excelso, Kopi Lain Hati, Kopi Soe, Filosofi Kopi, Kopi Toko Djawa, Point Coffee, The Coffee Bean, dan Maxx Coffee.

Dalam hasil perbandingan ini, Starbucks unggul 86,2% dibandingkan 12 kedai kopi franchise lainnya dengan total 6,672 data. Hal ini dikarenakan Starbucks sudah memiliki reputasi yang baik di Indonesia. Apalagi, Starbucks merupakan kedai kopi franchise terbesar di dunia yang berkantor pusat di Amerika Serikat, dan di Indonesia bermitra dengan PT Mitra Adiperkasa Tbk.  Informasi yang beredar di antaranya memuat konteks: 1) Kopi Starbucks bikin gak ngantuk, 2) Netizen senang beli kopi Starbucks senilai Rp43 ribu dapat dua cup, 3) Aplikasi mobile Starbucks Indonesia bermasalah.

Sementara itu, Kopi Kenangan memperoleh proporsi terbesar kedua yaitu 5,9% atau setara dengan 454 data. Tiga di antaranya memuat konteks: 1) Netizen suka Kopi Kenangan rasa Caramel Latte, 2) Netizen install aplikasi mobile Kopi Kenangan, 3) Kopi Kenangan diskon 50%, dengan pembayaran menggunakan Gopay.

Selain dua kedai kopi franchise tersebut, Janji Jiwa menyusul yang memiliki proporsi 2,4%, Excelso 2,2%, Point Coffee 1,4%, Maxx Coffee 0,4%, The Coffee Bean 0,4%, Filosofi Kopi 0,3%, Kopi Soe  0,2%, Kopi Lain Hati 0,2%, Fore Coffee 0,2%, Kopi Toko Djawa 0,1%, dan Kedai Kopi Kulo 0,1.

Cara Mendapatkan Kopi

Cara Mendapatkan Kopi (Sumber: Kazee Media Monitoring)
Cara Mendapatkan Kopi (Sumber: Kazee Media Monitoring)

Di zaman serba praktis seperti saat ini, sebagaian besar masyarakat telah mempercayakan ShopeeFood sebagai aplikasi layanan pesan antar makanan yang dapat diandalkan. ShopeeFood memperoleh proporsi sebesar 87,3%. Keberadaan promo gratis ongkos kirim (ongkir) dan potongan harga, menjadi faktor penyebab ShopeeFood dipilih oleh banyak masyarakat. Tiga informasi mengenai hal tersebut di antaranya: 1) Netizen mencoba memesan Starbucks menggunakan ShopeeFood dan mendapatkan kemasan reusable cup, 2) Netizen senang kopi kesukaannya di Janji Jiwa mendapatkan harga yang murah melalui pemesanan di ShopeeFood, 3) Netizen memesan kopi Janji Jiwa 1 cup, namun yang datang menjadi 3 cup.

Selanjutnya, GrabFood memperoleh proporsi terbesar kedua yaitu 5,5%. Hal itu dikarenakan adanya informasi yang memuat: 1) Netizen membeli kopi Janji Jiwa menggunakan promo diskon kilat 10.10, 2) Netizen menggunakan promo ambil sendiri GrabFood, 2 cup tall Starbucks tidak sampai Rp40 ribu, 3) Netizen membeli Kopi Soe dengan Croffle menggunakan promo ambil sendiri.

Sementara itu, pemesanan kopi melalui GoFood memperoleh proporsi terbesar ketiga yaitu 3,9%, disusul dengan datang langsung ke Gerai/Outlet sebesar 3,3%. Namun, Traveloka Eats tidak mendapatkan ekspos sama sekali karena tidak adanya topik yang dibicarakan dalam linimasa Twitter.

Metode Pembayaran

Metode Pembayaran di Kedai Kopi Franchise (Sumber: Kazee Media Monitoring)
Metode Pembayaran di Kedai Kopi Franchise (Sumber: Kazee Media Monitoring)

Pada grafik di atas, terlihat bahwa ShopeePay lebih unggul 31,3% sebagai metode pembayaran yang sering digunakan masyarakat dalam membeli kopi.  Hal itu dikarenakan banyaknya promo dan keuntungan yang akan didapat oleh konsumen jika menggunakan metode pembayaran tersebut. Tiga informasi yang beredar memuat topik: 1) Di aplikasi mobile Kopi Kenangan banyak voucher diskon 50% dengan membayar menggunakan ShopeePay dan mendapat cashback 100% hingga Rp12 ribu, 2) Netizen menantikan promo puncak ShopeePay deals Rp1 untuk membeli Maxx Coffee, 3) Cashback Rp5 ribu untuk pembelian Point Coffee menggunakan ShopeePay.

Selain itu, QRIS memperoleh proporsi terbesar kedua yaitu 22,9%. Tiga di antaranya memuat konteks: 1) Kopi Kenangan bikin cetak QRIS sendiri, 2) Cashback 75% di Point Coffee menggunkan QRIS Livin’ by Mandiri, 3) Netizen bercerita bahwa pembayaran menggunakan QRIS di Starbucks mengalami gangguan.

Selanjutnya, disusul oleh metode pembayaran melalui Kartu Kredit sebesar 12,5%, Gopay 10,4%, Uang Tunai 10,4, Kartu Debit 8,3%, OVO 2,1%, dan DANA 2,1%. Namun, pembayaran melalui Jenius dan LinkAja tidak mendapatkan ekspos sama sekali karena tidak adanya topik yang dibicarakan dalam linimasa Twitter.

Sebagai kesimpulan, geliat industri kopi semakin bergairah karena demand dan supply yang tinggi, serta adanya peran teknologi turut membantu industri ini berkembang.   Berkaca dari fenomena-fenomena di atas, masyarakat sangat antusias dengan kehadiran kedai kopi franchise dan penawaran-penawaran yang diberikan. Di lain sisi, para pebisnis kedai kopi pun dituntut untuk mengeluarkan inovasi baru karena ketatnya persaingan di lini bisnis yang sama. Berkaitan dengan itu, pebisnis kedai kopi juga diharapkan menerapkan competitive advantage agar produk atau layanan lebih unik di mata konsumen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *