Menilik Pesatnya Perkembangan E-Commerce Di Indonesia

E-commerce (Elektronik Commerce) atau dalam bahasa indonesia perdagangan secara elektronik adalah aktivitas penyebaran, penjualan, pembelian, pemasaran produk (barang dan jasa) dengan memanfaatkan jaringan telekomunikasi seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya. Bisnis e-commerce terus berkembang di Indonesia, tidak hanya memfasilitasi kebutuhan konsumen namun dengan hadirnya e-commerce juga mampu menjembatani UMKM untuk terhubung lebih luas dengan konsumen.

Lahirnya e-commerce di Indonesia bermula dari kehadiran Indosat yang didirikan pada tahun 1994 dan menjadi Internet Service Provider (ISP) komersial pertama di Indonesia. Kemunculan Indosat menjadi cikal bakal pemanfaatan teknologi dalam segala bidang, terutama pada bisnis online. Kemudian, pada tahun 1996, muncul Dyviacom Intrabumi atau D-Net yang dianggap sebagai perintis jual beli online. Mulanya penggunaan internet untuk jual beli ini hanya sebatas untuk menampilkan produk, sementara itu untuk transaksi pembayaran antara penjual dan pembeli tetap harus bertemu atau yang saat ini dikenal dengan istilah Cash On Delivery (COD).

Seiring berjalannya waktu berbagai platform e-commerce di indonesia didirikan dengan pembaruan sistem dan kemudahan layanannya, seperti Tokopedia yang didirikan pada 2009. Kemudian Go-Jek hadir sebagai aplikasi transportasi online pertama di Indonesia yang didirikan oleh Nadiem Makariem. Aplikasi yang mulanya hanya untuk mengantar dan menjemput penumpang ini, kini memiliki berbagai inovasi fitur seperti untuk pemesanan makanan hingga membayar tagihan listrik, telepon dan sebagainya. Bahkan saat ini Go-Jek dikatakan sebagai startup dengan level Unicorn karena nilai valuasinya mencapai lebih dari Rp 1 Miliar. Inovasi dari Go-Jek ini memberikan banyak inspirasi sehingga muncul berbagai e-commerce lainnya dan masuknya Lazada, Zalora dan Shopee di Indonesia sebagai platfrom e-commerce yang kini telah banyak dgunakan oleh masyarakat Indonesia.

Tren jual beli secara online melalui platform e-commerce ini seakan telah menggeser kebiasaan untuk membeli barang secara langsung di toko, ditambah dengan adanya pandemi covid-19 yang mulai merebak pada awal tahun 2020 di Indonesia membuat segala aktivitas terutama jual beli lebih banyak dilakukan secara online. Dilansir dari compass.co.id terdapat 5 marketplace yang mendominasi di Indonesia. Pada kuartal kedua tahun 2020, jumlah pengguna untuk 5 marketplace tersebut adalah sebagai berikut: Shopee (93,4 juta orang), Tokopedia (86,1 juta orang), Bukalapak (35,2 juta orang), Lazada (22 juta orang), dan Blibli (18,3 juta orang). Pengguna yang mendominasi marketplace tersebut berbeda-beda sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya, pengguna Shopee kebanyakan melakukan transaksi di industri fashion dan kecantikan, sedangkan transaksi elektronik banyak dilakukan melalui Tokopedia.

Data terbaru e-Conomy SEA 2020 menunjukkan Gross Merchandise Value (GMV) atau akumulasi nilai pembelian pengguna e-commrce yang dihasilkan di Indonesia mencapai $32 miliar atau setara 465 triliun Rupiah, hal ini menunjukan bahwa platform e-commerce mampu berperan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Bahkan e-commerce turut mempopulerkan berbagai layanan digital lain, seperti layanan teknologi finansial atau dompet digital seperti OVO dan DANA yang dapat membantu dalam proses transaksi. E-commerce juga turut mempopulerkan layanan logistik pintar, tata kelola bisnis digital hingga berhasil memberdayakan bisnis tradisional seperti warung dengan pendekatan kemitraan.

             Perkembangan e-commerce yang tumbuh pesat di Indonesia dengan tingginya jumlah pengguna tentunya disebabkan oleh beberapa faktor, adapun faktor pendorongnya seperti berikut:

  • Mayoritas Penduduk Memiliki Akses Internet

Berdasarkan hasil riset Hootsuite dan We Are Sosial hingga Januari 2021, dari total keseluruhan masyarakat Indonesia sebanyak 274,9 juta orang, persentase pengguna internet Indonesia sebanyak 73,7 persen yaitu mencapai 202,6 juta orang. Sementara untuk jumlah pengguna internet dari perangkat smartphone di Indonesia, riset mencatat ada 345,3 juta orang yang menggunakan perangkat tersebut. Angka ini mencakup persentase hingga 125,6 persen dari total keseluruhan populasi. Angka statistik yang cukup besar tersebut menjadi bukti bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sudah melek teknologi, maka bukan tidak mungkin jika masyarakat Indonesia menggunakan layanan internet untuk berbelanja online melalui layanan e-commerce.

  • Banyaknya Pengguna Media Sosial

Masih berdasarkan hasil riset Hootsuite dan We Are Sosial hingga Januari 2021, dari total populasi Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa pengguna aktif media sosialnya mencapai 170 juta atau 61,8 persen dari total populasi. Umumnya, pembelian barang di e-commerce dipengaruhi juga oleh strategi marketing yang dilakukan penjual di media sosial. Maka dari itu, banyaknya pengguna media sosial di Indonesia berpengaruh besar pada peningkatan laju e-commerce. Hal tersebut juga di pengaruhi oleh fenomena influencer yang juga dapat menjadi faktor pendukung para pengguna media sosial untuk melakukan transaksi di e-commerce tertentu, sehingga tidak heran jika perkembangan e-commere di Indonesia semakin tumbuh pesat.

  • Peningkatan partisipasi UMKM

Penggunaan platform online yang meningkat oleh konsumen serta hadirnya startup pendukung turut membangun lingkungan yang akomodatif bagi UMKM untuk merancang toko online, mengurus transaksi, dan memasarkan produk. Sejak Mei 2020 hingga Juni 2021 terdapat 6,5 juta UMKM yang bergabung di e-commerce, maka dengan semakin banyaknya UMKM yang memasarkan produknya di marketplace akan menjadi pilihan yang beragam bagi konsumen untuk membli produk yang diinginkan. Bahkan saat ini banyak penjual di marletplace yang menawarkan produk lebih murah dibandingkan dengan membeli secara langsung ke toko sehingga menjadi daya tarik bagi konsumen.

  • Bertumbuhnya Investasi

Jika mengutip data Google-Temasek Research, investasi kepada sektor ekonomi digital di Indonesia mencapai US$9,8 miliar sepanjang 2016-2019. Angka tersebut setara dengan Rp 137 triliun. Besarnya jumlah investasi pada sektor ekonomi digital di Indonesia tersebut tentu menjadi faktor pendukung pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia. Terlebih lagi pada 6 Agustus 2021 Bukalapak resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan menjadi perusahaan startup digital pertama yang melakukan IPO, maka dengan tercatatnya perusahaan e-commerce di BEI akan mendorong pertumbuhan perusahaan dari segi permodalan dari saham yang dijual. Sehingga perusahaan e-commerce bisa melebarkan sayapnya untuk lebih meningkatkan bisnis.

  • Dukungan Pemerintah

Pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia termasuk untuk pertumbuhan e-commerce. salah satunya melalui UU Cipta Kerja yang memberikan berbagai kemudahan, antara lain terkait perizinan, sertifikasi, pembiayaan, akses pasar, pelatihan, infrastruktur digital, implementasi sistem elektronik dan transaksi, serta perbaikan iklim usaha di Indonesia di sektor e-commerce. Hal ini menjadi pendukung kuat pertumbuhan e-commerce di Indonesia, terlebih dengan adanya berbagai program yang diluncurkan oleh pemerintah seperti membantu UMKM go digital untuk memasarkan produknya di platfrom e-commerce.

Tren belanja online saat ini sekaligus mendorong geliat pertumbuhan e-commerce yang semakin pesat di Indonesia, bahkan dengan adanya dukungan dari pemerintah untuk mendorog perkembangan ekonomi digital menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk turut serta memasarkan produknya di berbagai platform e-commerce. Hal ini tentu akan membawa pengaruh positif di tengah tantangan era teknologi informasi yang kian mengalami pembaruan, bahkan bukan tidak mungkin kedepannya di Indonesia akan melahirkan inovasi lainnya dari e-commmerce.

Referensi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *