Isu Terkait IPO Bukalapak Dalam Seminggu Terakhir

image source: Freepik

E-commerce atau electronice commerce adalah aktivitas jual beli yang dilakukan di internet. Perkembangan e-commerce di Indonesia sangat pesat. Salah satu unsur terpenting dalam ekosistem e-commerce saat ini adalah marketplace. Marketplace adalah sebuah situs dimana layanan jasa atau produk disediakan oleh pihak ketiga dalam jumlah banyak. Di Indonesia, marketplace adalah tempat yang sering digunakan oleh UMKM untuk memasarkan produknya secara online. Beberapa marketplace yang berada di Indonesia adalah Bukalapak, Tokopedia, Shopee, Lazada, Zalora, Blibli, dll.

Dalam beberapa bulan terakhir Bukalapak menjadi salah satu marketplace yang banyak dibicarakan dan disoroti oleh media. Bukalapak pertama kali diluncurkan di Indonesia pada tanggal 10 Januari 2010 oleh Achmad Zaky, Muhammad Fajrin Rasyid dan Nugroho Herucahyono. Tak disangka, marketplace yang dulu didirikan di sebuah rumah kos ini, kini menjadi salah satu Start Up Unicorn di Indonesia karena memiliki banyak investor. Bukalapak menjadi start-up unicorn ke-4 di Indonesia pada tahun 2017.

Semakin berkembang, Bukalapak kini akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Bukalapak sudah melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran saham sejak tanggal 28 Juli hingga 30 Juli 2021. Bukalapak tercatat sebagai start up unicorn pertama yang akan melantai di bursa. Dikutip dari Liputan6, berikut runtutan jadwal IPO Bukalapak:

Adapun jadwal sementara IPO yang dikutip dari prospektus perseroan yaitu:

  • Masa penawaran awal: 9-19 Juli 2021
  • Tanggal efektif: 26 Juli 2021
  • Masa penawaran umum perdana saham: 28-30 Juli 2021
  • Tanggal penjatahan: 3 Agustus 2021
  • Tanggal Distribusi saham secara elektronik
  • Tanggal pengembalian uang pemesanan: 5 Agustus 2021s
  • Tanggal pencatatan pada Bursa Efek Indonesia (BEI): 6 Agustus 2021

Kazee merangkum isu Bukalapak jelang IPO dalam periode 23 – 29 Juli 2021. Isu yang dikumpulkan adalah data yang diambil dari Kazee Media Analytics.

Berikut adalah isu teratas menjelang IPO Bukalapak dalam seminggu terakhir.

Berdasarkan hasil dari ekstraksi data pada tanggal 23-29 Juli 2021 terkait isu Bukalapak, terdapat beberapa isu tertinggi diantaranya adalah:

  1. Menanti Kolaborasi Grab, Emtek (EMTK) dan Bukalapak (BUKA)

Isu yang menjadi sorotan terbanyak adalah terkait kolaborasi Emtek, Grab dan Bukalapak. Emtek dan Grab menjadi sorotan jelang IPO Bukalapak. Isu ini mencuat karena Presiden Emtek, Alvin Sariaatmadja, merupakan salah satu pemegang saham terbesar Bukalapak. Dalam satu pekan terakhir isu terkait kolaborasi antara Emtek dan Grab adalah kolaborasi untuk menggabungkan keunggulan dari dua ekosistem. Mulai dari bisnis media, all commerce, dan content production. Inisiatif utama yang ingin mereka tegaskan adalah program akselerator untuk UKM dengan menawarkan solusi teknologi yang didukung Bukalapak dan Grab. Hal ini tentu menjadi sentimen positif bagi Bukalapak yang akan melakukan IPO.

2. Bukalapak Tetapkan Harga IPO Rp 850 per Saham

Isu yang menjadi sorotan kedua jelang IPO Bukalapak adalah harga saham Bukalapak. Harga saham Bukalapak ditetapkan Rp 850 per saham. Bukalapak akan menawarkan sebesar 25.765.504.800 lembar saham pada harga penawaran Rp 850 setiap sahamnya. Sebelum Bukalapak mengumumkan harga penawaran, BEI memperkirakan market cap-nya bisa mencapai Rp 87,6 triliun. Awalnya, rentang harga penawaran adalah sekitar Rp 750 – 850 per lembar saham.

3. Permintaan Saham Bukalapak Tercatat Mencapai Rp 87 T

Isu yang menjadi sorotan ketiga menjelang IPO Bukalapak adalah Permintaan Saham Bukalapak Tercatat Mencapai Rp 87 T. Isu ini menjadi sentimen positif untuk Bursa Efek Indonesia. Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan, IPO Bukalapak berpotensi meningkatkan kapitalisasi pasar modal Indonesia sebesar Rp77,3 triliun hingga 87,6 triliun.

4. Enam Unicorn IPO, Kapitalisasi Pasar Saham Bisa Bertambah Rp 553,9 Triliun

Isu yang menjadi sorotan ke lima jelang IPO Bukalapak adalah Enam Unicorn IPO, Kapitalisasi Pasar Saham Bisa Bertambah Rp 553,9 Triliun. Jika BEI mendapatkan enam unicorn untuk melantai di Bursa, maka nilai kapitalisasi pasar saham bisa bertambah Rp 553,9 Triliun. Beberapa perusahaan unicorn yang ada di Indonesia antara lain, Bukalapak, Traveloka, J&T Express, JD.id, dan OVO. Sementara itu, GoTo saat ini menduduki peringkat decacorn.

Bukalapak merupakan perusahaan start up unicorn pertama yang melantai di bursa. Hal ini akan mendorong sentiment positif bagi emiten teknologi. Selain itu, hal ini juga dapat meningkatkan kapitalisasi pasar saham. Bagi Bukalapak sendiri, hal ini tentu menguntungkan karena perusahaan akan mendapatkan modal tambahan, meningkatkan nilai perusahaan, dan juga bisa melebarkan ekspansi bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *