Strategi Mempertahankan Startup di Masa Pandemi

Setelah era ekonomi 4.0 di gencarkan oleh berbagai kalangan baik dari sektor pemerintahan maupun swasta, tentu dalam perkembangan teknologi yang semakin dinamis membuat para ekonom kreatif semakin terpacu untuk membuat inovasi teknologi agar berbagai kegiatan menjadi lebih mudah. Maka dengan didasari oleh hal tersebut muncul perusahaan-perusahaan berbasis teknologi atau sisebut startup, startup biasa di sebut juga dengan perusahaan dalam fase pengembangan. Startup ini biasanya mengacu pada perusahaan di bidang teknologi informasi yang berkembang di dunia internet.

Di Indonesia sendiri bila di kategorikan startup terdiri dari berbagai macam kategori mulai dari pengembangan aplikasi, sistem pembayaran, jasa, perdagangan dan lain-lain. Indonesia saat ini memiliki startup lokal yang masuk dalam kategori startup decacorn yaitu Gojek dengan nilai valuasi mencapai 10 miliar dollar AS. Gojek memiliki estimasi pendapatan sebesar 8 juta dollar AS per tahun atau setara sekira Rp 109,2 miliar (kurs Rp 13.654 per dollar AS). Hal tersebut menunjukan bahwa perkembangan startup di Indonesia cukup baik seiring dengan kesuksesan yang telah diraih oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki nilai valuasi yang tinggi.

Namun pandemi covid-19 yang telah melanda dunia termasuk Indonesia kini telah berimbas pada berbagai sektor termasuk startup yang juga berimbas pada perekonomian Indonesia, dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat karena semakin tingginya kasus covid-19 menyebabkan sebagain masyarakat kesulitan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan. Menurut data yang di keluarkan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2020 Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi yang minus sampai dengan 2,07 persen, hal tersebut berarti bahwa tingkat pengangguran, daya beli masyarakat serta kesenjangan sosial semakin tinggi karena adanya pandemi covid-19 ini.

Lantas bagaimana dengan pelaku industri kreatif termasuk startup? Tentu startup pun terkena dampaknya dengan fluktuasi pertumbuhan ekonomi yang minus ini, sebagai contoh startup lokal Gojek yang sudah memiliki tingkatan decacorn saja telah melakukan Pemutusan Hak Kerja atau PHK kepada sekitar 430 karyawan.  Jumlah tersebut setara dengan 9 persen total karyawan gojek, lantas hal apa saja yang harus di perhatikan dalam mempertahankan startup di masa pandemi ini? Bagi Anda yang sedang menggeluti dunia stratup berikut beberapa strategi dalam mempertahankan startup di masa pandemi :

  • Pentingnya Pendaftaran HKI (Hak Kekayaan Intelektual) Startup

Pendaftaran merek merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam bisnis khususnya pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dan bisnis rintisan berbasis digital atau startup. Hal ini karena pendaftaran tersebut memberi perlindungan hukum bagi pelaku usaha agar merek dagangnya tidak digunakan pihak lain. Selain itu, pendaftaran merek juga memberi kepercayaan lebih oleh konsumen terhadap produk yang dijual.

  • Perhatikan Relevansi Bisnis

Sediakan barang/jasa yang kiranya memang dibutuhkan saat pandemi. Bila mengubah ranah bisnis dirasa terlalu berat, Anda dapat menambahkan produk/jasa tambahan yang dapat menarik minat konsumen.

  • Ubah Mindset Unicorn Menjadi Unta

Unta merupakan hewan yang dapat bertahan di iklim yang ekstrim maka dari itu startup perlu memiliki mental baja. Jika belum ada investor yang datang, Anda dapat mulai bertahan dengan mengoptimalkan manajemen keuangan.

  • Perlakukan Investor Sebagai Bagian Dari Tim

Banyak startup memperlakukan investor bukan sebagai bagian dari tim, dalam hal ini  pihak startup harus menjelaskan secara gamblang bagaimana tantangan pandemi ini berpengaruh pada bisnis dan membuat rancangan konsep untuk dapat bertahan hidup selama pandemi.

  • Bangun Advisory Board

Advisory board adalah sebutan untuk pendamping pemilik startup. Agar bisa bertahan hidup, bangunlah relasi yang baik dengan Advisory Board sebab merekalah orang-orang berpengalaman dengan skill yang memadai dan mampu mengembangkan bisnis.

  • Berkolaborasi Dengan Investor Menggunakan Sistem SAFE

SAFE (The Simple Agreement for Future Equity) merupakan sistem investasi yang berupa kesepakatan bagi hasil antara investor dengan startup dalam jangka waktu tertentu. Bagi Anda yang tengah menjalankan startup alangkah baiknya untuk menerapkan sistem ini dengan mendiskusikan terlebih dahulu mengenai pembagian hasil yang akan disepakati, terlebih dimasa pandemi ini berbagai macam kemungkinan harus didiskusikan terlebih dahulu agar sistem bagi hasil yang diterapkan tidak akan membuat salah satu pihak merasa dirugikan.

Beberapa poin diatas bisa dijadikan strategi dalam mempertahan startup di masa pandemi, hal ini karena fluktuasi ekonomi yang tidak menentu dan cenderung menurun membuat para pelaku startup harus lebih kreatif lagi dalam mempertahankan brandnya.

Referensi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *