Hati-hati dengan 7 Jenis Hoaks Ini!

Hadirnya perkembangan internet dan teknologi memunculkan kemudahan dalam penyampaian informasi dan komunikasi menjadi cepat. Hal itu dapat dibuktikan dengan masifnya aktivitas yang saat ini sudah dapat dilakukan serba digital melalui gadget.

Namun sayangnya, perkembangan itu tidak dibarengi oleh kemampuan masyarakat dalam mengolah informasi dan berpikir kritis, sehingga berita bohong atau hoaks sangat cepat tersebar.

Secara sederhana, hoaks merupakan usaha untuk menipu atau mengakali masyarakat untuk mempercayai sesuatu yang tidak berdasar pada fakta.

Sejak beberapa tahun kebelakang hingga sekarang, masyarakat masih dibuat resah dengan beredarnya informasi dalam jagat maya. Konon, hoaks kerap kali menyebarkan berita bohong, menebar fitnah dan ujaran kebencian (hate speech), meneror, bahkan memeras atau melakukan penipuan. Berkaitan dengan itu, berita bohong atau hoaks lebih mendominasi di media sosial. Namun tidak hanya informasi berupa tulisan, tetapi hoaks juga dapat disebarkan melalui konten berupa gambar, ataupun video.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) pada 2019 mengenai perkembangan persepsi masyarakat atas penyebaran berita bohong, sekitar 61,5% responden berpendapat hoaks sangat mengganggu. Jumlah itu meningkat dari 43,5% pada survei serupa yang dilakukan Mastel periode 2017.

Dalam riset Mastel, isu sensitif terkait sosial, politik, suku, agama, ras, dan antar golongan, dimanfaatkan para penyebar hoaks untuk memengaruhi opini masyarakat agar dapat mempercayainya.

Bahkan di masa pandemi ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika menemukan ada 1.402 berita bohong terkait Covid-19. Jumlah itu didapatkan dalam periode 23 Januari 2020 hingga 1 Februari 2021. Dari jumlah itu, hoaks yang beredar mengenai vaksin Covid-19 terdapat 97 berita.

Secara umum, masyarakat yang menerima informasi tidak bisa membedakan hoaks atau bukan. Melansir dari laman Medcom.id, organisasi nirlaba First Draft mendukung jurnalis, akademisi, serta teknolog dalam upaya pemberantasan hoaks, setidaknya mencatatkan 7 misinformasi dan disinformasi yang masif beredar dalam jagat maya. Apa saja itu?

1. Satire
Satire merupakan konten yang dibuat untuk menyindir pada pihak tertentu. Kemasan konten berunsur parodi, ironi, bahkan sarkasme. Biasanya satire dibuat sebagai bentuk kritik terhadap personal maupun kelompok dalam menanggapi isu yang tengah terjadi. Konten jenis ini biasanya tidak memiliki potensi atau kandungan niat jahat, namun bisa mengecoh. 

2. Misleading Content 
Misleading terjadi akibat sebuah konten dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi. Misleading content dibentuk dengan cara memanfaatkan informasi asli, seperti gambar, pernyataan resmi, atau statistik, akan tetapi diedit sedemikian rupa sehingga tidak memiliki hubungan dengan konteks aslinya.

3. Imposter Content 
Imposter content terjadi jika sebuah informasi mencatut pernyataan tokoh terkenal dan berpengaruh. Tidak cuma perorangan, konten palsu ini juga bisa berbentuk konten tiruan dengan cara mendompleng ketenaran suatu pihak atau lembaga. 

4. Fabricated Content 
Fabricated content terbilang menjadi jenis konten palsu yang paling berbahaya. Konten ini dibentuk dengan kandungan 100% tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara fakta. Biasanya, fabricated content berupa informasi lowongan kerja palsu dan lain-lain.

5. False Connection 
Ciri paling gamblang dalam mengamati konten jenis ini adalah ditemukannya judul yang berbeda dengan isi berita. Konten jenis ini biasanya diunggah demi memperoleh keuntungan berupa profit atau publikasi berlebih dari konten sensasional. 

6. False Context 
False context adalah sebuah konten yang disajikan dengan narasi dan konteks yang salah. Biasanya, false context memuat pernyataan, foto, atau video peristiwa yang pernah terjadi pada suatu tempat, namun secara konteks yang ditulis tidak sesuai dengan fakta yang ada. 

7. Manipulated Content 
Manipulated content atau konten manipulasi biasanya berisi hasil editan dari informasi yang pernah diterbitkan media-media besar dan kredibel. Gampangnya, konten jenis ini dibentuk dengan cara mengedit konten yang sudah ada dengan tujuan untuk mengecoh publik.

Melalui hal ini, masyarakat diminta untuk perangi hoaks dengan menjaga etika dalam media digital. Mengingat saat ini, jika menyebarkan hoaks akan dijerat pasal yang mengancam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *