Pergeseran Pola Belanja Masyarakat di Tengah Pandemi COVID-19

via: gogetspace

Pandemi COVID-19 yang sudah melanda dunia sejak awal Februari lalu membuat berbagai negara menerapkan kebijakan pembatasan sosial, tidak terkecuali Indonesia yang melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah. Pembatasan sosial ini telah banyak merubah pola kegiatan masyarakat, dari yang pada mulanya bisa leluasa melakukan mobilisasi kemana saja tanpa terbatas aturan, kini dipaksa berdiam diri di rumah untuk menekan penyebaran wabah. Pola belanja masyarakat menjadi salah satu aspek yang begitu terlihat, di mana karena keterbatasan ruang gerak yang disebabkan aturan berdiam diri di rumah membuat belanja online melalui e-commerce menjadi pilihan utama. Selain praktis, hal ini juga disepakati menyumbang geliat pertumbuhan ekonomi yang positif.

Bahkan Pendiri Alibaba Jack Ma menyatakan, pada masa pandemi aktivitas ekonomi via internet menjadi penopang, dan internet benar-benar diandalkan sebagai teknologi yang menunjang kehidupan sehari-hari menjadi lebih praktis. Karena hal ini teknologi sudah bisa disimpulkan sebagai satu hal yang di situasi apapun mampu menjawab tantangan, bahkan di masa kelesuan yang menyerang di berbagai sektor. Sehingga melihat mendapat Jack Ma tersebut perusahaan teknologi khususnya e-commerce harus mampu menangkap peluang dengan lebih berinovasi dalam memberikan kemudahan di tengah pandemi.

Di Indonesia sendiri perusahaan e-commerce telah berhasil mencatatkan kenaikan volume penjualan di tengah pandemi Covid-19. Melihat pergerakan positif bisnis e-commerce Pemerintah mulai melirik sektor ini sebagai solusi untuk mengatasi defisit pajak akibat perlambatan perekonomian. E-commerce di Indonesia sebelum terjadi pandemi Covid-19 telah berhasil menjadikan Indonesia sebagai dengan nilai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara mencapai $40 miliar pada tahun 2019 data tersebut digadang-gadang akan meningkat hingga $130 miliar pada tahun 2025 meningat animo masyarakat yang semakin percaya terhadap kemudahan yang ditawarkan e-commerce.

Tercatat bahwa produk-produk yang paling banyak terjual selama masa pandemi ini adalah kategori Sembilan Bahan Pokok (Sembako). Berdasarkan data yang dimiliki MarkPlus, Inc. telah terjadi kenaikan sebesar 11,3% dari penjualan produk sembako di platform e-commerce. Produk tersebut meliputi barang groceries seperti daging, buah, dan sayur. Peningkatan penjualan produk sembako ini diikuti oleh produk makanan instan/kemasan dan produk kesehatan.

Peningkatan pembelian barang pokok selama masa pandemi juga diikuti oleh peningkatan yang cukup masif dari jumlah pengunduhan aplikasi e-commerce, bahkan beberapa e-commerce harus menerapkan kebijakan pembatasan pembelian khsus untuk produk sembako dan barang kesehatan. Namun tetap memastikan harga normal dalam penjualannya.

Tercatat kenaikan terjadi sebedar 71% pengunduh baru selama masa karantina ini. MarkPlus, Inc. berpendapat berdasarkan trend meskipun ekonomi sedang berada di masa krisis, e-commerce menjadi sektor yang paling gemilang karena saat ini.

Meski berperforma begitu gemilang, bisnis e-commerce di Indonesia tidak boleh terlena begitu saja. Asosiasi e-commerce Indonesia (idEA) mengingatkan pelaku e-commerce agar mulai menyusun rencana bisnis paska pandemi. Segala aspek yang mendukung bisnis bisa dibaca melalui pola jual-beli yang dilakukan masyarakat saat ini, sehingga e-commerce harus dengan cerdas menangkap setiap insight dari situasi sekarang sehingga bisa menjadi masukkan bagi perencanaan bisnis masa depan, kepekaan pelaku bisnis e-commerce akan diuji di masa ini sehingga perlombaan antar platform tidak bisa dihindari. Sehingga selesai masa pandemi e-commerce secara tidak langsung dituntut untuk menelurkan inovasi daris segi layanan dan teknologinya.

Bisa disimpulkan, saat ini e-commerce sedang mempelajari pola-pola perubahan yang terjadi di masyarakat. Sehingga keputusan kita saat ini akan mempengaruhi teknologi apa yang kemudian akan disediakan oleh platform e-commerce untuk semakin mempermudah keseharian manusia.

Jadi, apakah belanja online sudah menjadi pilihan di antara keterbatasan di masa pandemi? atau justru anda sudah mengandalkan keberadaan e-commerce jauh sebelum terjadi pandemi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *