Revolusi Sistem Pembayaran dengan Dompet Digital

Revolusi Sistem Pembayaran dengan Dompet Digital
Pembayaran Menggunakan Non Tunai (Sumber: Kreditpedia.net)

Maraknya transaksi online yang tengah digunakan masyarakat, kini semakin ramai karena sifatnya yang cepat dan praktis. Beberapa perusahaan teknologi dan juga perbankan kini mulai melirik bisnis financial technology (fintech) tersebut. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) menggagas gerakan masyarakat non-tunai (cashless society) dalam skala nasional yang bertujuan untuk menumbuhkan sirkulasi uang dalam perekonomian.

Mengutip dari Tribun News dengan merujuk data Bank Indonesia (BI), sejumlah transaksi jumlah uang serta bermuara di dompet digital yang tercatat hingga bulan Juli 2019 menembus 2,73 miliar dan meningkat sebesar 83,99 persen secara yoy.

Di Indonesia, ada sejumlah dompet digital yang kini sudah mempunyai top of mind dalam benak masyarakat, seperti Go-Pay, OVO, DANA, LinkAja, Sakuku, Uangku, Jenius, Doku, dan lain-lain. Dompet digital tersebut berlomba-lomba memberikan promosi menggiurkan untuk menarik konsumen, seperti potongan harga, dan juga cashback. Dompet digital tersebut dapat digunakan untuk melakukan pembayaran transportasi online, kuliner, pembayaran listrik, pembelian pulsa, pembayaran tv kabel, pembayaran premi asuransi, pembelian tiket bioskop, pembelian konten streaming film dan musik, bahkan pembayaran belanja online melalui e-commerce. Layanan tersebut terintegrasi dalam satu aplikasi smartphone, yang memudahkan masyarakat untuk mengaksesnya.

Dengan adanya dompet digital, pengguna dapat menyimpan kartu debit/kredit, bahkan menyimpan uang dalam jumlah yang besar, sehingga teknologi big data yang digunakan membuat perusahaan penyedia dompet digital akan menjadi lebih sempurna dalam mengenali perilaku penggunanya.

Selain itu, adanya dompet digital sangat menguntungkan untuk para pelaku UMKM, karena melalui kerja sama dengan pihak pengembang aplikasi dompet digital dapat membantu para pelaku UMKM dikerumuni oleh pembeli yang menyediakan metode pembayaran menggunakan dompet digital tersebut. Dengan adanya bentuk promosi potongan harga dan cashback, membuat toko ritel tersebut semakin dibanjiri pembeli. Hal itu tidak membuat para pelaku UMKM menjadi rugi, karena bentuk promosi tersebut ditanggung oleh penyedia dompet digital.

Melihat fenomena tersebut, artinya kebiasaan masyarakat kini sudah bergeser menggunakan pola transaksi yang serba online.

Sekarang, banyak perusahaan rintisan (startup) dengan model bisnis financial technology menggunakan strategi ‘bakar uang’. Hal tersebut merupakan strategi yang lumrah digunakan oleh para pengembang penyedia aplikasi dompet digital. Mengutip dari CNBC Indonesia, bakar uang atau insentif adalah cara untuk menciptakan kepercayaan kepada masyarakat. Dibandingkan perbankan yang sudah membangun kepercayaan bertahun-tahun, dompet digital merupakan hal baru. Sementara itu, dana yang dibakar oleh pihak financial technology (fintech) lebih kecil dibandingkan yang dilakukan perbankan, karena perbankan sudah melakukan edukasi dan memberikan diskon selama bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan masyarakat.

Dengan cara itu, perusahaan penyedia dompet digital mendorong masyarakat supaya mau bertransaksi menggunakan layanan pembayaran digital.

Mengutip dari Katadata, riset yang dirilis oleh Redseer menyebutkan nilai transaksi dompet digital akan mencapai US$25 Miliar atau setara dengan Rp 354,8 Triliun pada tahun 2023. Angka itu meningkat 1,566 persen dibandingkan nilai pada 2018 hanya sebesar US$ 15 Miliar. Namun di lain sisi, banyaknya penyedia dompet digital di Indonesia akan membuat para penggunanya merasa kebingungan dengan berbagai penawaran menarik dari penyedia dompet digital tersebut.

Pada tahun 2023 diramalkan bahwa proyeksi penggunaan dompet digital untuk transaksi secara online akan mengalami penurunan dan akan didominasi oleh transaksi offline. Hal itu disebabkan oleh perusahaan penyedia dompet digital ingin mengurangi subsidi pada layanan mereka. Bahkan, perusahaan penyedia dompet digital dapat memanfaatkan teknologi big data yang dapat menganalisa catatan setiap transaksi pelanggan, sehingga pihak penyedia dompet digital dapat membuat layanan atau iklan yang ditawarkan kembali ke toko-toko ritel. Selain itu, perusahaan penyedia dompet digital ingin menjaring masyarakat yang belum mempunyai akses ke perbankan. Namun, transaksi offline pada toko ritel masih sering digunakan bagi masyarakat tersebut.  Karena dengan cara tersebut sangat sering digunakan dan mudah dilakukan, sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar transaksi offline.

Oleh karena itu, fenomena tersebut memberikan tantangan bagi penyedia dompet digital, baik dari sisi fitur, sistem pembayaran, regulasi, keamanan dan perlindungan data pengguna harus diprioritaskan supaya tingkat kepercayaan pengguna tidak runtuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *