Peran Tagar #SawitBaik di Tengah Titik Api yang Belum Padam

Di tengah memuncaknya isu mengenai Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di Riau, Kalimantan Tengah. Peristiwa Karhutla di Riau ini dinilai merupakan kondisi yang kini menjadi polemic dikarenakan berdampak pada banyak aspek, dari mulai kesehatan masyarakat, berbahayanya kualitas udara, terhambatnya aktivitas masyarakat khususnya perekonomian, kondisi-kondsi tersebut merupakan aspek yang “tampak” saja, di luar kondisi-kondisi lain ada perdebatan lain soal peristiwa Karhutla, di antaranya sorotan terhadap Pemerintah Daerah setempat dan Pemerintah Pusat dalam menangani kondisi yang kian hari kian parah, selain itu ulah para korporasi yang menurut pemberitaan membakar dengan sengaja lahan gambut untuk kepentingan mereka sendiri.

Di tengah polemik yang sudah menjadi permasalahan nasional dan internasional ini—karena dampaknya yang sudah mencemari negara lain, salah satunya Malaysia—selain itu fakta Hutan Kalimantan yang merupakan salah satu paru-paru dunia menjadikan isu ini semakin hangat saja untuk diberitakan dan dibahas dalam diskusi di media sosial. Para ahli, pemerintah serta warga masayarakat memiliki perspektif masing-masing mengenai isu ini, namun sebagian besar mengecam pemerintah agar segera menyelesaikan permasalahan ini dengan upaya apapun.

Namun sayangnya, sikap pemerintah dinilai kurang tepat, hal ini tercermin dari langkah yang ditempuh oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang di tengah-tengah peristiwa Karhutla yang belum padam justru bertindak kontra dengan mendistribusikan tagar #SawitBaik di jagat maya. Hal ini dinilai tidak tepat untuk dilakukan oleh institusi pemerintah di tengah belum tertanggulanginya isu Karhutla.

Tagar #SawitBaik ini dipopulerkan oleh Kominfo pada Senin, 17 September 2019 dibarengi dengan peluncuran linimasa Twiiter dan Instagram dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang eksistensi sawit yang menyumbang devisa US$ 22,97 miliar pada 2017, selain itu tingkat Sumber Daya Manusia (SDM) yang diserap oleh industri ini juga sangat banyak sehingga layak diperhitungkan sebagai industri yang potensial bagi Indonesia. Tagar #SawitBaik ini juga ditujukan untuk meluruskan anggapan-anggapan negatif mengenai industry Sawit.

Narasi-narasi yang berusaha disampaikan oleh Kominfo ini dinilai tidak berempati terhadap kondisi yang kini sedang menimpa hutan di Kalimantan, padahal salah satu penyebab Karhutla adalah industri Sawit itu sendiri. Terlebih lagi saat ini peran media sosial beserta para buzzer-nya yang turut meningkatkan ekspos #SawitBaik dikhawatirkan akan mencemari kondusifitas dalam pemberitaan dan menutupi isu yang jauh lebih penting seperi penanganan Karhutla itu sendiri. Pada situasi seperti ini peran media monitoring tentunya menjadi penting untuk menilai dan menganalisis persebaran isu secara komprehensif. Berbagai lembaga yang berkaitan dengan Karhutla baik dari sektor pemerintah dan NGO bisa mengetahui trend terkini dari apa yang dibicarakan dan diberitakan pada jagat maya. Sehingga para pemangku kepentingan lebih bisa menentukan pendekatan yang lebih relevan dan tidak salah kaprah seperti yang terjadi pada tagar #SawitBaik yang justru memperoleh kecaman dari berbagai pihak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *