Infrastruktur 5G di Indonesia: Infrastruktur yang Perlu Eksis untuk Dorong Pembangunan Nasional

Jaringan generasi kelima atau 5G digadang-gadang akan segera hadir di Indonesia mengingat kebutuhan akan berinternet dengan kualitas yang tinggi sangat diharapkan oleh berbagai pihak, terlebih lagi kini Indonesia sedang dalam proses pembangunan di berbagai aspek strategis yang artinya pengembangan dan inovasi sedang begitu gencar di lakukan di berbagai sektor dari mulai teknologi, ekonomi, investasi, kuliner, fashion dan lainnya. Pembangunan yang sedang dilakukan tersebut tentunya tidak terlepas dari kehadiran internet yang menjadi stimulus dari terciptanya iklim pertukaran data yang lebih efisien dan tentunya cepat.

Teknologi 5G ini hadir tentunya dengan membawa kebaruan yang sifatnya mutakhir dibanding generasi-generasi sebelumnya, di mana eksistensinya lekat dengan koneksi yang super cepat, latensi yang rendah, serta kemampuan untuk menghubungkan lebih banyak perangkat/gadget tanpa kendala yang berarti.

Untuk mengaplikasikan jaringan 5G di Indonesia mungkin masih memerlukan proses panjang mengingat ketersediaan jaringan 4G saja masih belum secara merata bisa diakses karena beberapa faktor baik itu ponsel pengguna maupun keberadaan infrastruktur BTS.

Berdasarkan prediksi jaringan 5G di Indonesia akan mulai hadir pada 2022 mendatang, di mana saat ini regulasi dan riset masih terus diupayakan baik oleh pemerintah dan perusahaan telekomunikasi terkait. Sampai saat ini kendala terbesar yang dihadapi oleh Indonesia terkait penerapan jaringan 5G terletak pada penentuan spektrum yang akan dialokasikan pada jaringan tersebut, selain itu persiapan alat-alat/infrastruktur yang memadai juga harus diperhitungkan secara saksama karena membutuhkan biaya yang besar.

Kementerian Komunikasi dan Informatika menyatakan akan melakukan penetapan frekuensi 5G paska ditetapkannya pita frekuensi oleh World Radiocommunication Conferences (WRC) yang akan dilangsungkan pada Oktober 2019 mendatang. Berdasarkan rencana Kominfo akan menggunakan frekuensi middle 3,5GHz yang digunakan untuk satelit. Adapun apabila jaringan 5D secara resmi diaplikasikan di Tanah Air, maka prioritas utama diberikan pada sektor industri, sedangkan pengguna telepon seluler akan menyusul kemudian.

Berdasarkan kondisi terkini masih ada keraguan dari para operator seluler apakah masyarakat indonesia mau untuk membayar lebih untuk fasilitas 5G, mengingat kocek yang harus dikeluarkan untuk menikmati layanan 5G akan lebih mahal dibanding jaringan yang secara mainstream kini digunakan di tanah air. Namun, tentunya penggunaan untuk korporasi akan lebih diperhatikan agar jaringan 5G bisa segera hadir di Indonesia untuk mendorong aspek pembangunan nasional, mengingat trend saat ini di dunia untuk penggunaan 5G memang untuk kebutuhan korporasi/industri.

Berdasarkan best practice mungkin Indonesia bisa menengok Korea Selatan sebagai negara yang pertama kali mengaplikasikan jaringan 5G di negaranya pada April lalu. Sampai Saat ini Korea Selatan juga masih mengembangkan infrastruktur jaringan 5G untuk meningkatkan jumlah penggunanya yang sampai saat ini belum mencapai 5% dari keseluruhan pengguna ponsel atau sekitar 2 juta lebih pengguna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *