4 Hal Tentang Gen Z yang Harus Dipahami Para Marketers

Ilustrasi digital marketing (Foto: Unsplash.com)

Tahun 2019 bisa dibilang sebagai tahunnya Gen Z, generasinya orang-orang yang lahir pada rentang tahun 1995 hingga 2010. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Bloomberg Analysis, tahun ini Gen Z akan melangkahi Millenials dalam urusan jumlah populasi.

Data tersebut menyebutkan, dari populasi global yang mencapai angka 7,7 miliar jiwa pada 2019, Gen Z akan mengisi sebanyak 32 persen dari jumlah tersebut. Melampaui populasi Milennials yang jumlahnya hanya mencapai 31,5 persen pada tahun ini. Jika dikalkulasikan, berarti Gen Z memiliki total populasi yang mencapai lebih dari 2,4 miliar jiwa!

Fakta ini pun seharusnya bisa menjadi peluang baik bagi para marketers. Meskipun, marketers juga perlu memahami terlebih dahulu perbedaan mendasar soal perilaku Gen Z dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. Marketers dinilai perlu memahami cara-cara komunikasi yang paling mereka sukai hingga saluran komunikasi apa saja yang paling sering mereka gunakan.

Lalu, sebenarnya apa saja perbedaan mendasar antara Gen Z dengan generasi-generasi sebelumnya? Melalui artikel ini, kami pun telah merangkum empat hal yang menjadi perbedaan utama antara keduanya. Keempat hal ini bisa menjadi kunci dalam merencanakan strategi pemasaran yang efektif, jika Anda menargetkan Gen Z sebagai target pasar utama. Berikut selengkapnya:

  • Menghargai Keaslian

Keaslian yang dimaksud dalam konteks ini berkaitan dengan influencer. Maksudnya Gen Z cenderung lebih menyukai para nano-influencer yang memiliki jumlah pengikut mulai dari 1000 hingga 10.000 di media sosial. Hal ini karena mereka dianggap lebih memberikan respon atau review yang asli dibandingkan para Macro maupun Mega Influencer seperti para selebritas.

Hal ini juga didorong oleh karakteristik Gen Z yang dinilai tidak berpatok pada satu figur. Artinya, Gen Z lebih menghargai keunikan dan menerima perbedaan individu dibandingkan generasi sebelumnya. Itulah mengapa nano-influencer kerap dijadikan sebagai sumber informasi untuk pengambilan keputusan, ketika mereka berniat untuk membeli sesuatu.

  • Instagram = Penentu Keputusan Gen Z

Bagi Gen Z, Instagram adalah penentu keputusan mereka. Seperti dikutip dalam Socialmediatoday.com, sebanyak 45 persen Gen Z lebih memilih untuk mendapatkan informasi tentang produk dan merek-merek terbaru di Instagram. Sebelum selanjutnya meneliti produk-produk tersebut di media sosial lainnya seperti Youtube.

Ketergantungan mereka terhadap Instagram, juga kembali dipengaruhi oleh influencer-influencer yang ada di dalamnya. Mereka memilih influencer yang dianggap kredibel dan dapat dipercaya bagi mereka. Bahkan dikutip dari sumber yang sama, hasilnya menunjukkan bahwa Gen Z lebih mungkin memilih produk berdasarkan rekomendasi yang diberikan influencer, dibandingkan para selebritas.

  • Generasi Kritis

Seorang psikolog bernama Elizabeth T. Santosa, dalam bukunya yang berjudul  Raising Children in Digital Era, mengemukakan bahwa Gen Z memiliki 7 karakteristik khas. Salah satunya adalah mereka menyukai hal yang detail. Inilah yang membuat Gen Z cenderung kritis dalam berpikir dan detail dalam mencermati suatu permasalahan.

Hal ini pun berdampak pada keputusan mereka ketika memutuskan untuk membeli suatu barang. Dalam survei yang dilakukan oleh Social Impact Agency DoSomething Strategic, diketahui sebanyak 76% Gen Z memutuskan untuk membeli suatu produk karena merk tersebut mendukung masalah atau isu yang sama, sehingga sesuai dengan concern mereka. Sedangkan 67% Gen Z, memutuskan untuk berhenti membeli suatu merek, jika merek tersebut memiliki ideologi yang berlawanan terhadap concern mereka.

  • Gen Z Gemar Berbagi Konten

Generasi yang begitu melekat dengan teknologi dan media sosial, kemudian membentuk sikap Gen Z yang gemar berbagi konten. Hal ini pun didukung dengan hasil survey yang dilakukan oleh Socialmediatoday, yang menyebutkan sebanyak 25 persen Gen Z selalu memposting sebuah video setiap minggunya. Sedangkan sebanyak 65 persen, mereka selalu membuat konten dan membagikannya di sosial media.

Hal ini pun pada akhirnya berkaitan dengan bagaimana mereka menikmati sebuah konten di media sosial. Dari hasil survei yang sama, diketahui Gen Z cenderung lebih menyukai sebuah video yang menampilkan sebuah produk dan video yang mengajarkan keterampilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *